Utang dan Curang Bagian Dari Demokrasi?



Oleh : Aila Hana Sofia
(Menulis Asyik Cilacap)

JAKARTA - Presiden terpilih 2019– 2024, Joko Widodo (Jokowi), meng­ungkapkan akan melanjutkan tugas sejarah untuk mengemban amanat yang telah diberikan oleh rakyat se­hingga bisa kembali memimpin In­donesia dalam lima tahun ke depan.

“Saya dan KH Ma’ruf Amin meng­ucapkan terima kasih atas kepercaya­an yang diberikan oleh rakyat kepada kami berdua untuk melanjutkan tugas sejarah, mengemban amanat keper­cayaan rakyat membawa seluruh rak­yat Indonesia menuju Indonesia maju yang bermartabat, sejajar dengan ne­gara-negara lain di dunia,” jelas dia.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan usai ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Presiden ter­pilih lewat rapat pleno di Gedung KPU, Jakarta, Minggu (30/6).
http://www.koran-jakarta.com/jokowi-akan-bawa-seluruh-rakyat-menuju-indonesia-maju/

Utang Ribawi Semakin Tinggi

Mungkinkah negara ini akan maju sementara utang luar negeri semakin tinggi? 
Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan pada kuartal I 2019. Dari data statistik ULN Bank Indonesia ULN mencapai lebih dari Rp 5.000 triliun.

Disebutkan dalam komposisi tersebut ada ULN pemerintah dan ULN swasta. Masing-masing meningkat setiap bulan dan setiap triwulan. Berdasarkan data Bank Indonesia, utang luar negeri terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 190,5 miliar atau Rp 2.724,1 triliun. 

Kemudian, utang swasta termasuk badan usaha milik negara (BUMN) US$ 197,1 miliar Rp 2.818,5 triliun. (detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4554638/kian-bengkak-utang-luar-negeri. 18/5/2019)


Peneliti INDEF Bhima Yudhistira menyebut pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Presiden Joko Widodo melakukan evaluasi terkait utang tersebut. "Jadi sekarang saatnya Menkeu dan tim ekonomi pak Jokowi evaluasi lagi lah. Di mana masalah efektifitas utangnya. Jangan sampai kurang efektif tapi tambah terus," ujar Bhima saat dihubungi detikFinance, Sabtu (18/5/2019).

Dia menyampaikan, hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang stagnan, konsumsi rumah tangga yang tidak naik signifikan. "Ini akan jadi beban untuk generasi berikutnya," jelas dia. 

Bhima menjelaskan upaya front loading yang dilakukan awal tahun ini belum mampu mendorong konsumsi rumah tangga kuartal I 2019. "Bisa dicek konsumsi hanya tumbuh di angka 5%, padahal sudah ada banyak belanja pemerintah seperti bantuan sosial, dana desa, gaji pegawai dan belanja pemilu yang sebagian didanai dari pinjaman," imbuh dia.

Menurut Bhima, utang juga belum terbukti mampu menciptakan stimulus untuk perekonomian. Pembangunan infrastruktur yang didanai utang beberapa diantaranya masih di bawah kapasitas penggunaan, karena kurang matang dan terencana.

*Akankah Negara Ini Maju Jika Konsisten Dengan Utang Ribawi*

Bagaimana mungkin negara ini akan maju. Sedangkan Utang Luar Negeri semakin tinggi. Dan kekuasaan boleh diambil melalui kecurangan. Karena utang dan kecurangan bagian dari Demokrasi. Dan Demokrasi adalah bagian dari sistem kapitalisme yang diemban oleh negara-negara barat berdasarkan asas sekularisme. 

Sesungguhnya negara-negara maju di dunia itu adalah kemajuan semu. Mereka maju hasil dari menjajah negara-negara miskin dan berkembang dengan pemberian utang. Sejatinya mereka adalah negara rentenir. Kemajuan suatu negara seharusnya hasil dari pengelolaan Sumber Daya Alam dan kualitas Sumber Daya Manusia di dalamnya. 

Kemajuan suatu negara akan tampak dari kesejahteraan ekonomi penduduknya dan peradaban yang gemilang. Sebagaimana pernah terjadi pada masa kehilafahan Islam selama berabad-abad silam. Bahkan pernah terjadi suatu masa dimana penduduknya tak ada satupun yang berhak menerima zakat kala itu. Hingga akhirnya sang Khalifah mengirim zakat tersebut ke negara Eropa yang masih dalam kegelapan. 

Jika Indonesia ingin menjadi negara maju. Maka contohlah negara khilafah dulu. Putuskan segala kerjasama yang bathil, karena otomatis akadnya batal. Kelola kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah secada mandiri. Kita memiliki SDM yang mumpuni, segala kekayaan alam negeri ini akan menghantarkan Indonesia menjadi negara adidaya dengan potensi militer yang luar biasa.

Sungguh tanah kita ini tanah surga dunia. Tanah air Indonesia lahan empuk untuk dikeruk kekayaan alamnya oleh negara pengemban kapitalisme. Mari campakkan sistem ekonomi ribawi kapitalisme. Kembali kepada sistem ekonomi Islam, yang sumber pendapatannya berasal dari Baytul Maal, hasil pengelolaan kekayaan alam. Bukan dari pajak dan utang luar negeri. Utang akan ditempuh jika negara dalam kondisi sangat pailit. Saat kas Baytul Maal benar-benar kosong. Namun jarang terjadi kecuali negara mengalami musibah kekeringan yang panjang. Dimana sumber daya alam menjadi tidak produktif dan kelaparan terjadi dimana-mana sebagaimana pernah terjadi pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab. 

Masihkah kita berharap dan percaya dengan sistem demokrasi ini? Haruskah kita menunggu negara ini menjadi negara gagal karena utang yang tak bisa kita bayar? BUMN semakin banyak yang diprivatisasi, laut dan pulau banyak yang dimiliki oleh pribadi. Lalu kemana kita akan mencari solusi demi masa depan generasi. Lebih-lebih ridho Allah Robbul Izzati? 
Wallahu'alam Bishawab

Posting Komentar

0 Komentar