Rezim Panik, Khilafah dan Pengusungnya Terus Dikriminalisasi



Oleh: Anita Herlina, SST
(Aktivis Muslimah)


Khilafah kini telah menjadi salah satu istilah yang sangat popular di negeri ini. Bahkan isu Pilpres pun sering dikaitkan dengan isu khilafah tersebut. Sebagai sebuah isu politik di level nasional dan internasional, tentu isu khilafah tidak sepi dari pro dan kontra. Dari waktu ke waktu persoalan khilafah akan terus menjadi topik pembicaraan publik , dari sisi yang pro maupun yang kontra. Itu sebagai konsekuensi dari sebuah konsep pemikiran politik yang menyangkut kehidupan masyarakat luas.


Menghadang Khilafah

Mereka yang kontra akan terus berupaya mencegah ide khilafah itu berkembang luas. Mereka khawatir, jika bergulir luas maka ide khilafah akan cepat menjelma menjadi cita-cita dan arah perjuangan umat Islam sedunia.

Mereka berusaha menghadang khilafah dengan berbagai cara, baik yang bersifat soft-approach maupun yang hard-approach. Istilah soft-approach umumnya digunakan untuk merujuk pada penggunaan lembaga think-tank, lembaga studi dan penerbitan buku-buku untuk mendiskreditkan ide khilafah. Adapun  hard-approach merujuk pada penggunaan kekuatan Negara untuk memberangus ide khilafah, seperti pelarangan dan sejenisnya. 

Untuk soft-approach, yang paling gencar mereka lakukan adalah menjadikan ide khilafah sebagai utopis dan ide mitos atau berbagai istilah lainnya yang semakna. Intinya mereka ingin memperlemah pemikiran umat Islam, dengan menjadikan ide khilafah itu sebagai sebuah mitos   yang akan menguras energi secara sia-sia. Mereka berupaya menanamkan pemahaman bahwa gagasan menyatukan seluruh umat Islam di dunia dalam satu Negara Kekhilafahan itu merupakan hal yang mustahil. 

Ide khilafah memang akan berbenturan dengan rezim, baik di tingkat lokal/nasional maupun tingkat internasional. Ini karena ide khilafah pasti bersinggungan dengan persoalan politik dan kepemimpinan ideologi secara internasional. Di tingkat lokal, beberapa rezim telah menggunakan hard-approach untuk membendung gerak laju perjuangan penegakkan khilafah ini. Mereka misalnya mengeluarkan beberapa peraturan dan perundang-undangan untuk mengkriminalisasikan ide khilafah. Akibatnya, umat Islam yang mendukung ide khilafah akan dikategorikan sebagai pelaku tindak kriminal yang mengancam keselamatan negara.

Di Indonesia sendiri hal ini dialami oleh kelompok dakwah ideologis yang mengusung ide khilafah; Hizbut Tahrir Indonesia. HTI dan tokoh-tokohnya seringkali mengalami persekusi dalam dakwah. Pada tanggal 19 Juli 2017 tanpa surat peringatan apalagi undangan dialog, Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI dicabut oleh pemerintah. Bottom of Form Menteri Pertahanan (Menhan) meminta masyarakat tak terpengaruh paham khilafah. Paham itu telah masuk ke ranah pendidikan."Ancaman khilafah ini sudah terang-terangan ingin mengganti ideologi Pancasila. Ini datang untuk merusak, sudah berjalan di sekolah dan universitas," katanya di gedung A.H Nasution Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat Rabu, 8 Mei 2019.

Di tingkat global, Amerika Serikat telah mengangkat dirinya menjadi pemimpin terhadap Negara-negara lain untuk melawan ide khilafah ini. Dalam pidatonya di White house pada September 2006, Presiden AS George W. Bush saat itu pernah berkata: ‘Mereka ingin mendirikan kekuatan politik utopia di seluruh kawasan Timur Tengah yang mereka namakan Khilafah, di mana semua diperintah berdasarkan ideologi mereka yang penuh kebencian…Saya tidak akan membiarkan ini terjadi, dan juga tidak ada satu Presiden AS pun di masa mendatang
yang akan membiarkan hal ini …..(Dailyealler.com).


Janji Allah Pasti Terwujud

Negara - negara penjajah yang dipimpin AS tentu tidak akan membiarkan khilafah tegak. Mereka akan berusaha mengaborsi khilafah sebelum ia lahir. Namun, dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT, upaya mereka pasti gagal. Khilafah yang akan datang pasti mampu menghadapi makar mereka. Khilafah bahkan mampu menjadikan tipudaya mereka menjadi wasilah  kehancurannya.

Secara I’tiqadi (keyakinan), seorang Muslim wajib meyakini kembalinya khilafah. Sebab khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah Saw. Dipertanyakan keimanannya jika ragu atau bahkan tidak percaya akan hal ini. Allah SWT berfirman dalam QS an-Nur [24] : 55 yang artinya :’Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,…. 

Rasulullah saw, pun telah mengabarkan bahwa dunia ini akan kembali pada fase kekhilafahan di atas manhaj kenabian setelah fase mulkan jabriyyan (kekuasaan diktator) seperti pada saat ini :’…..kemudian akan datang masa khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (HR Ahmad).

Atas dasar keyakinan pula, orang-orang kafir pada saatnya nanti akan dikalahkan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS al-Anfal [8]: 36  : ‘Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, mereka akan dikalahkan, dan ke dalam jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”.


Khilafah Adalah Obat Mujarab bagi Semua Persoalan Hidup

Ancaman sebenarnya bagi masyarakat saat ini adalah ideologi kapitalisme-liberalisme. Sebab faktanya, berbagai kerusakan yang terjadi di berbagai negeri muslim dalam bidang ekonomi, hukum, sosial, dan politik justru bersumber pada penerapan sistem kapitalisme-liberalisme itu. Bahkan berbagai kerusakan fisik yang terjadi di Irak, Afganistan, Suriah, Yaman, dan sebagainya sebenarnya akibat kerakusan negara penjajah di negeri-negeri tersebut. Semua ini meniscayakan Khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya alternative sistem  yang dapat menata dunia.  

Mungkin orang akan mencibir bila kaum muslim mengungkapkan keberhasilan khilafah. Tapi fakta tak bisa ditolak, sebab justru dunia sendiri yang mengakui keberhasilan itu. Inilah yang dikemukakan Will Durant dalam The Story of civilization.

Alhasil, perjuangan penegakkan khilafah itu harus dapat pula dibaca sebagai wujud kepedulian. Kepedulian untuk melepaskan negeri-negeri muslim dari kerusakan akibat penerapan sistem kapilatisme-liberalisme. Sekaligus sebagai perjuangan untuk mengakhiri berbagai kekejaman akibat cengkeraman negara-negara Barat penjajah di berbagai negeri muslim.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar