Kerjasama Pendidikan, Bukan Sekadar Pertukaran Pelajar




Oleh : PS. Saroya 


"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia" (Nelsen Mandala)

Dunia saat ini sedang  dihadapakan dengan pesatnya perkembangan teknologi dan arus persaingan global yang semakin ketat.  Hal ini akan menyebabkan harus ditingkatkannya kemampuan dan keterampilan, agar suatu bangsa berkembang atau maju.  Di dunia pendidikan misalnya dituntut untuk lebih inovatif. Oleh sebab itu, untuk menjawab tantangan persaingan global maka di bukalah pertukaran pelajar Indonesia  dengan pelajar luar negri. Karena cara ini dianggap ampuh untuk meningkatkan psikomotorik,  critical thinking, problem solving,  comunication, collaboration, creativity, dan invention.  

Dilansir oleh Pacitanku.com, Sekolah Alam Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur dan Warraphat School, Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand menjalin Memorandum Of Understanding (MoU) di bidang pendidikan melalui program “Sister School". Salah satu guru Sekolah Alam Pacitan, Ardika mengatakan melalui program tersebut, Sekolah Alam Pacitan mengajak siswa - siswi kelas 5-6 untuk belajar ke luar negeri. Lebih lanjut, Ardika mengungkapkan dengan adanya kerjasama ini diharapkan bisa memberikan dampak positif untuk pendidikan di Pacitan.


Kapitalisasi Pendidikan 

Persaingan di bidang akademik  dan ketrampilan membuat salah kaprah dalam pengambilan kebijakan. Anak - anak dituntut  untuk meningkatkan kualitas akademik dan kreatifitas saja. Akhirnya pendidikan di sekolah tidak membentuk kepribadian yang baik.  Anak - anak menjadi korban kapitalisasi pendidikan. Sehingga terlupakan tugas tujuan dari pada sekolah adalah memberikan pendidikan pada anak-anak yang membutuhkan, sementara fokus orangtua adalah biaya yang tidak murah yang disuguhkan sekolah tersebut.  

Paradigma Pendidikan 

Jika pendidikan adalah senjata ampuh untuk mengubah dunia,  tentu bukan pendidikan yang membuat kepribadian suatu bangsa semakit terpuruk  akibat mengikuti persaingan akademik dan kreatifitas yang sangat ketat. Pendidikan  yang akan memajukan suatu bangsa adalah pendidikan yang melindungi dan memelihara akal agama nasab,  harta, kemuliaan dan keamanan sebuah negara. Oleh sebab itu seluruh politik pendidikan, perindustrian akan disinergikan untuk meujudkan hal itu semuanya.

Adapapun kurikulum pendidikan dalam Islam, tentu akan mengahasilkan siswa yang berkepribadian Islam. Mempunyai tsaqofah tentang Islam yang sangat luas tentang sirah nabawi, bahasa arab.  Tentu untuk mengembangkan suatu bangsa tidak luput juga dari kemajuan di bidang IPTEK nya. 

Kerjasama Pendidikan  dalam Bidang Islam

Dalam bidang pendidikan, negara dengan garis politik luar negerinya dan strategi diplomasinya akan secara proaktif melakukan kerjasama dengan negara-negara selain negara musuh. Prinsip-prinsip perjanjian internasional Negara Khilafah di bidang Pendidikan. 

Negara Islam melaksanakan kurikulum pendidikannya dengan politik kebijakan tertentu untuk membentuk syakhshiyyah Islamiyah (kepribadian Islam). Syariat Islam telah membolehkan aktivitas belajar mengajar dalam kerangka mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat dan dunia. Negara Islam boleh membuat perjanjian untuk mendatangkan guru ataupun dosen dalam bidang ilmu-ilmu eksperimental dari luar negeri karena seorang guru terikat dengan kurikulum negara dan tidak boleh keluar darinya. Tidak boleh membuat sebuah perjanjian yang isinya membolehkan negara lain untuk menyebarkan pemikiran dan menyiarkan ideologi yang keliru, atau membuka sekolah - sekolah swasta di tengah-tengah kaum Muslim. Tidak boleh mengikat sebuah perjanjian yang isinya mengharuskan negara Islam terikat dengan program2 yang tidak sesuai dengan kebijakan pendidikan yang harus dipegang teguh. 


Khatimah 

Kita akan terbebas dari kapitalisasi  pendidikan hanya ketika Islam telah tegak kembali.  Oleh sebab itu sudah sepantasnya kita kembali pada hukum Allah dan memperjuangkannya.  





        


Posting Komentar

0 Komentar