Demokrasi Bikin Sakit Hati



Oleh: Ummu Zayta


Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengkritik Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto (PS) yang akhirnya bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Damai menyebut Prabowo sedari awal sudah terlihat kurang beradab. 

"PS sudah menampakkan kekurangberadabannya sejak pasca Ijtimak Ulama pertama kepada para ulama yang melakukan Ijtimak Ulama pertama atau yang ke-1, lalu ada Ijtimak Ulama ke-2," kata Kadiv Hukum PA 212 Damai Hari Lubis dalam keterangannya, Minggu (detiknews/14/7/2019).

Hal ini membuat warganet 'menyerang' akun Twitter resmi Partai Gerindra @Gerindra. Salah satunya akun Melidya Sari @Orangberiman6. Dia mengucapkan selamat tinggal kepada Prabowo.

"Kalau jatuh korban jangan nanggung, sekalian semua turun revolusi, rebut kekuasaan, depan mata anda ditipu, digebukin, jatuh korban, lalu anda diam dan malah melakukan undertable politik dibalik layar. Maaf, selamat tinggal @prabowo," tulis dia.
(CNN Indonesia/13/07/19)

Demikianlah bentuk kekecewaan banyak pihak menyaksikan adegan rekonsiliasi Prabowo dan Jokowi di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7/2019) pagi. 

Pertemuan Prabowo dan Jokowi di Stasiun MRT Lebak bulus menjadi saksi hilangnya perseteruan dan kompetisi dua kubu.   Padahal, semula pendukung PS begitu yakin takkan terjadi rekonsiliasi.

Ijtimak ulama yang berlangsung hingga dua kali, yang mengokohkan untuk menantang rezim, akhirnya harus menelan kepiluan kalau pilpres yang dianggap sebagai asa untuk memperjuangkan aspirasi umat dan selamatkan negeri ternyata hanya permainan.

Prabowo mengaku bahwa hal itu dilakukan dalam kerangka politik dan demokrasi.

"Jadi kalau kita kadang-kadang bersaing, kadang-kadang saling mengritik itu tuntutan politik dan demokrasi," ujar Prabowo saat memberikan keterangan bersama Presiden Joko Widodo di stasiun MRT Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (kompas.com/13/7/2019).

Demokrasi yang selalu dijunjung tinggi hanya menjadi alat untuk mengantongi suara demi kekuasaan.Tidak ada kata lawan dan kawan sejati melainkan hanya  kepentingan abadi. Pertanyaannya, ratusan nyawa yang melayang dan kecurangan terang terangan apakah juga karena tuntutan demokrasi?

Ketika sistem dan aturan tidak didasarkan pada aqidah dan tidak berpedoman kepada syariah, maka jangan heran ketika yang salah dibenarkan, melakukan kecurangan, menzhalimi, mengingkari dan mengkhianati janjinya sendiri.

Semakin tampak jelas bahwa demokrasi adalah sistem dan aturan rusak yang akan selalu  menghasilkan produk gagal yang menyengsarakan.  Oleh karena itu sudah saatnya umat menyongsong perubahan kepada kebangkitan hakiki yang berasal dari Sang Pencipta yang terbukti selama lebih kurang 13 abad berhasil mencetak manusia terbaik dan mampu menyelesaikan problematika umat. Yakni sistem Khilafah ala minhajin an-Nubuwah.

Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar