Balita Terpapar HIV/AIDS, Salah Siapa?

Oleh: Yuni Damayanti
(Pemerhati Sosial Asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara)

Badan Layanan Umum Daerah Konawe (BLUD) Rumah Sakit Umum Daerah Konawe (RSUD) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak dua tahun terakhir telah menemukan tujuh kasus HIV AIDS yang menyerang balita. Hal ini berdasarkan hasil pemeriksaan sejumlah pasien yang diduga mengidap penyakit mematikan itu. Dokter spesialis anak RSUD Konawe dr. Rafika Masyur menjelaskan, temuan kasus penderita HIV ini merupakan yang terbesar untuk kategori balita. Dari tujuh pasien yang dinyatakan positif, satu diantaranya telah meninggal dunia.

Ibu dr. Rafika pun mengatakan bahwa tahun 2016 juga ditemukan satu pasien balita positiv HIV dan sudah meninggal dunia, di 2018 kembali menemukan empat kasus serupa, kemudian di 2019, sampai saat ini sudah menemukan tiga orang penderita. Kebanyakan kasus yang ditemukan menular dari orang tua si balita. Sebab, setelah dilakukan observasi, pihaknya mendapati orang tua balita tersebut ada yang mengidap HIV AIDS. Untuk 2018 lalu lanjutnya, bahkan menemukan kedua orang tuanya merupakan penderita HIV AIDS, dan kebanyakan kasus yang ditemukan memang berasal dari orang tuanya (Zonasultra.com, 08/07/2019).

Selain itu, secara keseluruhan di Indonesia sendiri penderita HIV yang dilaporkan berdasarkan data Kementerian Kesehatan mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun dan pada tahun 2017 mencapai 48.300 kasus. Jumlah tersebut meningkat 17,09% dari tahun sebelumnya. Sementara AIDS pada tahun lalu sebanyak 9.280 kasus turun 8,54% dari tahun sebelumnya, namun penurunan ini diperkirakan karena rendahnya pelaporan kasus  AIDS di daerah (Katadata.co.id, 03/12/2019).

Menilik Persoalan
Dari kasus di atas, setidaknya ada beberapa penyebab penularan HIV yang paling umum, yaitu: Pertama, melalui donor darah yang terinfeksi. HIV paling umum disebarkan melalui darah. Transfusi darah secara langsung donor darah yang terinfeksi adalah cara penularan HIV dengan probabilitas tertinggi untuk menjadi terinfeksi. Berbagi jarum suntik dalam penggunaan obat-obatan terlarang dan tertusuk alat tajam secara tidak sengaja dalam fasilitas kesehatan merupakan cara lain yang dapat menularkan HIV. Namun, penyebaran penyakit HIV melalui cara tersebut lebih kecil peluangnya daripada melalui transfusi darah.

Kedua, lewat hubungan seksual tanpa kondom. Seseorang dapat beresiko tinggi tertular HIV ketika melakukan hubungan seks dengan seseorang yang terinfeksi HIV. Segala macam aktivitas seksual, vaginal maupun anal, dapat menularkan HIV dalam hubungan seks heteroseksual, khususnya tanpa kondom. Hubungan seks dengan kondom tidak dapat menghilangkan resiko penularan HIV dikarenakan masalah pada penyalahgunaan dan kerusakan kondom.

Ketiga, penularan HIV dari ibu ke anak. Selain dari darah dan cairan ejakulasi, ketika seorang perempuan terinfeksi oleh HIV, virus tersebut dapat menular kepada bayinya selama masa kehamilan, persalinan dan melahirkan, atau dengan cara menyusui karena HIV dapat ditularkan melalui ASI. Selain itu, HIV juga dapat ditularkan kepada bayi melalui makanan yang terlebih dulu dikunyahkan oleh ibu atau perawat yang terinfeksi HIV, meskipun resikonya sangatlah rendah.

Dari uraian penyebab utama penularan HIV/AIDS diatas terbukti bahwa anak-anak usia dini yang mengidap HIV/AIDS hanyalah korban, karena mereka tertular dari orang tuanya. Olehnya itu, sangat diperlukan adanya sosialisasi  kepada masyarakat bahaya HIV/AIDS dan penyebab penularannya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah balita dan anak-anak penderita HIV yang tertular dari orang tuanya.  Di sinilah sangat dibutuhkan peran negara untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS.

Sementara itu, pencegahan yang disosialisakan selama ini tidak menyelesaikan masalah, karena ada saja yang membagi-bagikan kondom kepada para remaja dan menyarankan penggunaanya. Ini pernah terjadi dibeberapa daerah, kondom dibagikan gratis kepada para remaja. Padahal ini justru memunculkan paradigma berpikir dikalangan remaja bahwa seks pra nikah itu biasa, yang penting aman, maka pakailah kondom. Jika selama ini remaja takut seks pra nikah,  karena takut hamil atau terkena penyakit menular HIV/AIDS. Begitu mereka tahu kehamilan dan tertular penyakit HIV/AIDS bisa dicegah, maka kemaksiatan akan semakin subur. Ini sudah cukup  menjadi bukti bahwa negara masih minus dalam mengatasi masalah hingga ke akarnnya.

Ditambah lagi, sitem sekuler hanya memproduksi orang-orang yang menjunjung tinggi nafsunya dan mengabaikan peran Allah dalam mengatur urusan kehidupannya. Maka tidak aneh muncul kebijakan bagi-bagi kondom untuk menekan angka penderita HIV/AIDS. Selain itu munculnya kebijakan lokalisasi atau tempat pelacuran juga ikut berperan menambah jumlah angka penderita HIV melalui aktivitas gonta-ganti pasangan seks.

Sungguh miris melihat peningkatan angka penderita HIV, apalagi saat ini banyak balita dan anak-anak yang menjadi korban karena tertular dari orang tuanya. Anak-anak yang harusnya tumbuh di lingkungan yang sehat justru terpapar penyakit menular. Mereka adalah anak-ank suci tanpa dosa yang seharusnya mampu menjadi generasi penerus bangsa. Namun, kini mereka harus menanggung efek buruk dari kemaksiatan orang tua dan masyarakat rusak di sekelilingnya. Jangankan memikirkan masa depanya, kelak bagi mereka bisa bertahan sampai dewasa itu hanyalah mimpi. Sistem sekuler yang serba bebas pun ternyata  justru banyak mengundang  masalah, bukan seperti yang diimpikan para pengusungnya. Anggapan bahwa hidup bebas akan mendatangkan kebahagian ternyata hanya fatamorgana.

Pemecahan Masalah
Berbeda dengan hal di atas, dalam sistem Islam upaya penaggulangan HIV/AIDS dilakukan dengan dua langkah penting, yaitu: Pertama, langkah pencegahan, yaitu langkah preventif yang diberlakukan kepada warga masyarakat yang sehat (belum tertular). Langkah pencegahanya dengan menanamkan keimanan yang kokoh, sehingga terbentuk pola hidup islami dalam masyarakat. Jauh dari seks bebas dan narkoba yang menjadi faktor utama penyebaran HIV/AIDS dan memberikan sanksi kepada mereka yang melakukan maksiat.

Kedua, pengobatan (langkah kuratif) upaya pengobatan yang dilakukan haruslah mengikuti prinsip-prinsip pengobatan yang sesuai dengan syariat Islam, yaitu tidak membahayakan, tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan. Mendorong dan memfasilitasi penderita untuk semakin takwa kepada Allah dan menerima apa yang sudah ditetapkan Allah kepadanya.

Dengan demikian, tidak mudah membabat tuntas persoalan HIV/AIDS, jika solusi yang diberikan tidak mampu menyelesaikan masalah, tetapi justru menambah masalah. Karenanya penting adanya sinergi antara individu, masyarakat dan negara untuk memberantas permasalahan tersebut dan hal itu hanya mungkin terwujud dengan diterapkan aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bisshowab.

Posting Komentar

0 Komentar