Tranportasi Publik pun Diliberalisasi

Oleh: Ninik

(Praktisi Pendidikan-Nganjuk)

Setelah sebulan penuh umat menjalani ibadah puasa dengan berbagai ujian dan kedzaliman yang terus menerus di pertontonkan oleh Rezim Khianat maka tibalah waktunya untuk merayakan hari kemenangan dengan berkumpul bersama orang tua,sanak saudara di kampung halaman. Kita biasa menyebutnya dengan istilah Mudik. Lebih dari itu mudik / lebaran faktanya erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan insaniah dan pelaksanaan kebaikan yang di Syariatkan Islam.

Hal ini tidak semulus dengan angan-angan umat,karena mahalnya tiket transportasi dan selalu jauh dari sebutan aman,manusiawi dan rasa nyaman bagi setiap orang. Angka kecelakaan dari tahun ke tahun selalu saja tinggi,ratusan jiwa melayang sia-sia. Sehubungan harga tiket pesawat yang sangat mahal sehingga publik beralih dari angkutan udara yang relatif lebih aman ke angkutan darat dan laut dengan berbagai resiko,disamping tinggginya pengguna kendaraan roda dua yang sangat rawan kecelakaan.

Sungguh fakta menyakitkan ini tidak akan terjadi dalam sistem kehidupan Islam. Penerapan transportasi publik gratis atau murah termasuk infrastruktur jalan raya suatu hal yang pasti dalam sistem kehidupan Islam. Karena Islam melarang infrastruktur publik di jadikan sumber pemasukan negara dan juga terlarang di kuasai oleh entitas bisnis,bahkan negara wajib mencegahnya. Hal ini sebagaimana di tegaskan Rasulullah Saw yang artinya "Siapa saja yang mengambil satu jengkal saja dari jalan kaum muslimin,maka pada hari kiamat kelak Allah SWT akan membebaninya dengan beban seberat tujuh lapis bumi" (HR. Iman Thabrani). Negara harusnya sebagai pihak yang bertanggungjawab langsung dan sepenuhnya dalam menjamin setiap orang terhadap transportasi publik gratis berkualitas(aman,nyaman,manusiawi).

Gambaran transportasi umum dan fasilitas jalan pada era Khilafah dahulu yaitu para Khalifah selama berabad-abad benar-benar bertanggungjawab langsung dan sepenuhnya menjamin akses setiap orang terhadap transportasi publik gratis. Mulai dari infrastruktur, moda transportasi dan para pengemudinya. Bahkan juga di persiapkan hotel-hotel gratis dengan berbagai fasilitas yang di butuhkan bagi para musafir termasuk makan gratis. Di negeri-negeri Islam tersedia jalan-jalan yang nyaman di lalui dengan penerangan yang sangat memadai ,tersedia hingga di pelosok negeri. Tidak hanya sekedar ada dan gratis namun berkualitas terbaik. Sehingga benar-benar menberikan rasa aman,nyaman dan terpeliharanya aspek kemanusiaan setiap orang. Sebagai contoh di masa kekhilafahan Turki Usmani di masa pemerintahan Khalifah Abdul Hamid II terdapat proyek kereta api Hejaz Railway. Jalur yang terhubung antara Damaskus-Aman sampai Madinah di bangun tidak lama setelah penemuan teknologi kereta api. Proyek ini memperpendek waktu tempuh dari 17 jam menjadi 4 jam.

Oleh karena itu harusnya Indonesia membangun konsep dan paradigma bagaimana membangun infrastruktur yang shahih atas dasar untuk kemaslahatan umat. Negara wajib menyediakan fasilitas transportasi yang aman,nyaman dan gratis bagi publik. Bagaimana dan dari mana anggaran untuk pengadaan infrstruktur jalan dan transportasi tersebut di dapat? pertanyaan itu sering muncul di tengah-tengah umat. Islam memiliki konsep shahih pengeloaan kekayaan negara yang memungkinkan negara memiliki kemampuan finansial memadai untuk fungsi dan tanggungjawab serta jaminan akses setiap orang terhadap transportasi publik gratis,aman dan manusiawi.

Salah satu sumber pemasukan berasal dari barang tambang yang jumlahnya seperti air mengalir. Subhanalllah Bumi Indonesia di anugerahi Allah SWT berbagai barang tambang seperti emas, perak, aluminium, migas, biji besi, dan batu bara yang sampai saat ini hampir semuanya ada dalam kekuasaan asing. Misal tambang emas terbesar di dunia Grasberg di Papua,selama puluhan tahun hingga hari ini di kuasai PT.Freeport Indonesia,anak perusahaan pertambangan AS Freeport MC Moran Copper dan gold. Para ahli Geologi berpandangan depositnya tidak akan pernah habis,sementara cadangannya terbukti senilai 4M Dolar AS. Ini baru satu tambang emas,bagaimana bila di akumulasikan semuanya?

Kemacetan salah satu kendala dan menjadi momok bagi pemudik merupakan buah pahit dari Liberalisasi transportasi publik. Yakni,ketika pemerintah lalai dan transportasi publik berada dalam kendali korporasi. Baik itu korporasi swasta murni maupun korporasi milik pemerintah. Angkutan publik yang tidak aman dan nyaman serta jauh dari pemenuhan kebutuhan membuat publik memilih angkutan pribadi sementara,jalan-jalan tidak di desain untuk menghadapi kendaraan dengan volume besar. Selain itu transportasi masal seperti kereta,selain mahal tidak di kelola untuk melayani kebutuhan publik,demikian pula transportasi laut dan udara di tengah berlimpahnya teknologi terkini yang memungkinkan tersedianya secara memadai angkutan publik aman,nyaman dan manisiawi baik di darat,laut dan udara. Ditambah lagi adanya harga tiket pesawat yang mahal menjadi celah untuk masuknya maskapai asing ke negeri ini. Indikasi ini sangat kuat ketika Jokowi hendak mengundang maskapai asing ke Indonesia. Hal tersebut terjadi di tangah-tengah berbagai tekanan biaya yang harus di tanggung maskapai dalam negeri,seperti harga avtur yang lebih mahal dan beban pajak yang tinggi. Sungguh rezim neolib telah memfasilitasi liberalisasi transportasi publik dan berbagai agenda liberalisasi lainnya. Itu semua berakibat fasad yang harus segera di akhiri.

Dengan kembali kepada Syariat Islam maka persoalan buruknya transportasi publik dapat di atasi. Fakta sejarah membuktikan penerapan paradigma Islam yang shahih berikut dengan keseluruhan sistem kehidupan Islam menjamin akses setiap orang untuk mendapatkan transportasi publik gratis,aman dan manusiawi bahkan untuk hewan sekalipun. Kunci semua itu adalah ketika penguasa hadir sebagai pelaksana Syariah secara Kaafah dalam bingkai Khilafah. Karenanya kembali pada kehidupan Islam adalah kebutuhan mendesak bagi bangsa ini. Lebih dari pada itu Khilafah adalah Syariat Islam yang di wajibkan oleh Allah SWT bagi kita semua. Allahu a'lam.


Posting Komentar

0 Komentar