Sisi Gelap Industri Games

Oleh : TatiRistianti

Baru- baru ini kita dikejutkan dengan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh seorang gamers online berinisial YS, perempuan berusia 26 tahun asal Pontianak, Kalimantan Barat, dengan status tidak bekerja,  ditangkap oleh jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya. YS berhasil  membobol bank sebesar Rp1,85 miliar lewat sebuah games online, Mobile Legend. Adanya penangkapan terhadap YS dituturkan oleh Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Ary Syam Indradi di Mapolda Metro Jaya, di Jakarta, Sabtu, 18 Mei 2019. (Viva.co.id, 18 Mei 2019).


Kasus YS semakin menambah daftar panjang tindak kejahatan yang dilakukan oleh seseorang akibat dipicu oleh kecanduan terhadap games on Line, Mobile Legend. Game ini adalah game yang tengah populer dan banyak digandrungi oleh para pencinta game. Saking sudah populer dan menjadi gaya hidup (lifestyle) saat ini.  Bukan hanya games aksi, kini games olahraga elektronik atau biasa disebut e-sport kian dikembangkan dalam bisnis ini. Akhirnya zaman sekarang banyak orang yang menjadikan gamers sebagai profesi dan industri games menjadi industri yang sangat mengiurkan untuk dikembangkan oleh para pebisnis termasuk pemerintah.


Masalah games on Line ini bahkan  sempat dibahas dalam debat capres waktu lalu. "Anak muda sekarang senang jadi gamers" . Bahkan menurut Jokowi, perubahan global yang terjadi saat ini, seperti artificial intelligence (AI), internet of things, virtual reality, dan bitcoin. Ini juga sama, ini sebuah profesi yang anak muda menyenangi sehingga pemerintah akan membangun infrastruktur digital. Oleh karena itu direncanakan pemerintah akan membangun infrastruktur digital. Broadband, palapa ring, 4G," kata capres petahana ini. (https://m.liputan6.com/pilpres/read/3941093/jokowi-industri-game-memiliki-peluang-besar-di-indonesia). 


Namun sungguh disayangkan, dampak buruk dan sisi gelap dari industri  game yang menjadi kebanggaan dan yang banyak digandrungi jutaan generasi muda saat ini cenderung diabaikan dan kurang mendapat perhatian, khususnya dari pihak pemerintah. Padahal fakta di lapangan sungguh jelas bahwa industri games juga memiliki dampak negatif yang cukup serius terhadap kepribadian generasi muda dan mempengaruhi juga arah pembentukan peradaban di tengah-tengah masyarakat.


Dan yang lebih parahnya lagi kadang-kadang seseorang bermain game hingga meninggalkan kewajiban seperti ibadah sholat atau amanahnya. Tentu ini sangat dilarang apabila bermain game sampai meninggalkan kewajiban ibadah. Kecanduan, malas, kurang tidur, kurang finansial, radiasi bahkan mendorong tindakan kejahatan atau kriminalitas seperti yang dilakukan YS perempuan muda asal Pontianak. Dan yang lebih parahanya lagi seseorang bermain game hingga meninggalkan kewajiban seperti Ibadah sholat atau amanahnya. Tentu ini sangat dilarang apabila bermain game sampai meninggalkan kewajiban ibadah.

Bahkan Menurut WHO, bermain game disebut sebagai gangguan mental ketika permainan itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan. "Sudah banyak cukup bukti yang menunjukkan kecanduan game dapat menimbulkan masalah kesehatan," tulis WHO dalam situs resminya.(https://sains.kompas.com/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental)


Untuk mengatasi dampak buruk dari berkembangnya industri games dan semakin gandrungnya generasi muda terhadap game. Tentunya diperlukan perhatian dan peran dari semua pihak, baik peran keluarga, sekolah dan pemerintah. Pemerintah tidak boleh hanya melihat ada keuntungan finasial semata dibalik perkembangan industri games ini dan kemudian menutup mata dan abai terhadap dampak negatif yang ditimbulkannya. Karena sudah jelas dampak negatif yang ditimbulkan, apabila tidak ditanggulangi, bukan lagi sekedar masalah pribadi tapi akan meluas menjadi masalah sosial, masyarakat dan negara, artinya ini akan menjadi masalah sistemik, yang berakibat fatal terhadap keberlangsungan pembentukan karakter dan kepribadian generasi muda, akan berjalan jauh dari harapan, yaitu generasi muda yang memiliki kepribadian yang tangguh, beriman, bertaqwa dan berakhlaqul Karimah (berbudi luhur). Tetapi yang terwujud malah sebaliknya yaitu generasi muda korban liberalisasi yang sesuai lifesytle barat yang serba bebas (liberal) dan hedonis.


Dalam Sistem Islam penguasa yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk meri’ayah umat termasuk menjaga dan melindungi generasi dari berbagai kerusakan. Tanggung jawabnya ada pada negara atau pemerintah, dalam hal ini adalah seorang Khalifah. sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa : “Seorang Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Oleh karenanya maka melihat perkembangan industri games saya berharap pemerintah tidak hanya pro aktif dalam menindaklanjuti dampak positif saja, tetapi juga menindaklanjuti dengan serius dampak negatifnya, sehingga yang terlahir di negeri ini adalah generasi beriman, bertaqwa dan berakhlaqul karimah yang nantinya mereka lah yang akan menjadi penerus tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini.


Wallahu a’lam.


 


Posting Komentar

0 Komentar