Ramadan dan Kematian (Catatan Duka Pasca Kepergiannya)

Oleh : Tri Silvia 

.

.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa Ilaaha Illa Allahu Wallahu Akbar. Allahu Akbar Walillahilhamd... 

Kurang dari enam hari yang lalu, gema takbir menderu. Menandakan datangnya Hari Raya yang dinanti. Rasa gembira tak terkira dirasa oleh mereka, yang lulus atas semua ujian yang menerpa. Terutama ujian menahan lapar dan dahaga.

.

Ada rasa syukur tak terhingga, dari hati-hati yang penuh suka cita. Syukur atas segala nikmat karunia yang telah diberi Sang-Pencipta. Hingga sampailah ia pada Syawal yang penuh cinta. 

.

Di samping rasa gembira, syukur dan suka cita. Rasa duka pun tak luput dari hati-hati mereka. Duka akan perginya bulan mulia, penuh rahmat dan magfiroh-Nya. Kepergian begitu saja dan tinggalkan tanda tanya. Akankah sampai usia ke Ramadan berikutnya? 

Ramadan telah usai. Bulan yang dinanti telah pergi. Dua belas bulan ke depan menunggu implementasi, usai menjalankan puasa yang diwajibkan. Sedih haruslah dirasa, namun hidup terus berjalan. Seiring kematian yang terus mengikuti, amal ibadah senantiasa ditambah itu pasti. 

Duka hilangnya Ramadan bertambah dengan banyaknya kematian dari orang-orang terkasih, pun tokoh bangsa yang dikasihi. Beberapa hari yang lalu, Indonesia berkabung duka. Duka akan wafatnya salah satu ibu negara yang dicintai rakyat negerinya. Senin, 02 Juni 2019, Almh Ibu Ani Yudhoyono telah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Jakarta. Acara pemakaman yang diiringi dengan upacara kenegaraan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh bangsa.

.

Belum lagi hilang dari ingatan, kepergian Alm.Ustaz Arifin Ilham. Kepergian yang membawa duka akan kehilangan sosok ulama tauladan. Yang senantiasa membawa kedamaian dan ketenangan. Ribuan jama'ah mengiringi sholat dan pemakaman, kaum muslimin tenggelam dengan duka yang mendalam.

.

Duka akan kehilangan yang bertumpuk, sungguh membawa banyak sekali pengajaran. Apa saja yang dimulai pasti punya batasan masa, termasuk usia dan waktu. Lihat saja siklus kehidupan, lahir, muda, dewasa, tua, dan mati. Lahir dan mati bersifat pasti, namun tiga lainnya tak ada yang mampu menjamin secara pasti apakah ia akan terjadi. Manusia sebagai makhluk lemah dan serba terbatas, tak bisa hidup selamanya. Ada batas usia berbeda yang Allah takdirkan untuk tiap-tiap diri kita. Maka dari itu, syukurilah setiap kelahiran dan manfaatkanlah. Sebab yang lahir itu pasti akan mati. Begitupun Ramadan, selama bumi masih mengitari porosnya, waktu Ramadan akan terus berulang dan pergi lagi. Sungguh tak ada yang abadi di dunia ini, selain Ilahi Robbi.

Selain itu, manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Itulah yang harus dikerjakan. Lalainya manusia atas usia dan waktu inilah yang akhirnya membuat sesal di akhir masa. Buruk kesudahan yang berakhir dengan penyesalan. Jangan sampai menimpa diri ini lagi dan lagi. Hingga usia tak lagi mau mendampingi. 

.

Semoga kita mendapat pengajaran dari setiap amalan dan kesempatan (baik usia ataupun waktu) yang telah kita usahakan. Sehingga Ramadan lalu bisa berbuah ketakwaan. Yang akan menjadi bekal di dua belas bulan ke depan. Sampai akhirnya kita bisa berjumpa kembali dengan Ramadan di tahun-tahun yang akan datang.

.

Wallahu A'lam bis Shawab

Posting Komentar

0 Komentar