Ramadan Berlalu, Syawal Siap Berjibaku




Oleh Ummu Qonita 'Ilmi



Bulan Ramadan telah berakhir, dan berganti dengan bulan Syawal. Di satu sisi, setiap muslim bersedih ketika Ramadan berlalu, dan merasa gembira dengan hadirnya bulan Syawal. Bersedih karena merasa belum maksimal ibadahnya di bulan Ramadan dan khawatir Ramadan berikutnya tak bisa bertemu kembali. Dan merasa gembira karena meraih kemenangan di bulan Syawal setelah satu bulan menahan lapar dan dahaga.


Tujuan dari berpuasa adalah meraih predikat takwa. Kaum muslimin dibulan Ramadan berlomba-lomba melakukan kebaikan, berpakaian menutup aurat dengan berhijab syar'i, tidak berdusta, sedekah, khatam tilawah Quran, shalat taraweh dan shalat wajib berjamaah di masjid, qiyamul lail, santunan anak yatim, menghindari ghibah,  dll. Makna takwa adalah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Harapannya, setiap muslim setelah melewati Ramadan menjadi pribadi yang bertakwa untuk menjalani kehidupan di 11 bulan berikutnya dan tercapainya ridho Allah SWT.


Namun apa yang terjadi, jauh panggang dari api. Ramadan berlalu, sebagian kamu muslim pun kembali lupa dengan makna takwa yang menjadi tujuan berpuasa. 

Kaum muslim kembali dengan aktivitasnya yang jauh dari makna takwa. Kerudung ditanggalkan, ghibah kembali dipertontonkan, salat berjamaah dilupakan, tilawah Quran jarang-jarang, berdusta menjadi lumrah dilakukan maksiat pun tetap berjalan. Ya, Ramadan berlalu, kaum muslimin kembali jauh dari islam. Ide sekularisme masih menghinggap pada diri kaum muslim. Memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya ada masjid saja, atau ketika sedang ada kelahiran bayi, pernikahan/perceraian, dan  kematian. Di luar itu semua, jangan bawa-bawa agama. Padahal Allah perintahkan untuk terikat dengan Islam dalam setiap perkara kehidupan. 

Bulan Ramadan tak membuat kaum muslimin menyandang predikat takwa selama sekularisme masih ada dalam benak kaum Muslimin. Maka tak ada jalan lain, selain meninggalkan sekularisme dan bersegera  melakukan ketaatan kepada Allah dan RosulNya serta meninggalkan laranganNya sehingga predikat takwa berhasil diraih.

 Ada beberapa kiat-kiat yang bisa dilakukan agar kita senantiasa dapat meraih predikat takwa :


1. Bersungguh-sungguh menjalankan perintah  Allah dan menjauhi setiap laranganNya


Bersungguh-sungguh dan tidak menunda-nunda melaksanakan fardhu a'in dan fardhu kifayah, tidak boleh membeda-bedakannya.


2. Memahami bahwa Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas semua yang kita lakukan.

Senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT dimanapun, kapanpun, sedang melakukan apapun. Ada CCTV Allah lewat malaikat Rokib dan A'tid yang senantiasa mencatat setiap aktivitas  kita yang terlihat dan tersembunyi, yg diucapkan di lisan dan di hati dan Allah meminta pertanggungjawaban itu semua.


3. Terikat dengan hukum syara. 

Allah perintahkan setiap muslim untuk terikat dengan hukum-hukum  Allah ketika muslim tersebut telah baligh.


4. Rajin mengkaji Islam, ikut mendakwahkannya dan bergabung dengan komunitas dakwah Islam


Mengikuti dengan intens kajian-kajian keislaman agar dapat memahami Islam dan ikut menyampaikan Islam kepada teman, saudara, tetangga dan masyarakat.


5. Berkumpul dengan orang soleh. 


Pepatah Arab mengatakan jika kamu berteman dengan tukang pandai besi  maka kamu akan kebagian panas dari besi itu. Begitu juga ketika kita berkumpul dengan orang soleh, insha Allah kita akan menjadi soleh dan mereka pun akan mengingatkan kita ketika kita tergelincir dalam maksiat.


6. Sering mengingat kematian dan siksa pedih api neraka.


Mengingat kematian adalah obat yang mujarab bagi mereka yang sering bermaksiat. Ya, dengan mengingat kematian dan siksa pedih api neraka membuat kita takut kepada Allah dan meninggalkan maksiat


7. Selalu berdoa kepada Allah agar diberikan keistiqomahan.


Senantiasa berdoa agar ditetapkan hidayah dan petunjuk pada agama ini. Karena Allah yang Maha Membolak balikan hati seseorang, semoga kita ditetapkan dalam hidayah dan petunjuk pada agama ini.


Wallahu'alam bisshowab...

Posting Komentar

0 Komentar