Lailatul Qodar, Mengapa Dirahasiakan?


Oleh : Lilik Yani


Tak terasa kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Berarti tidak lama lagi kita akan berpisah dengan bulan penuh berkah ini. Bulan yang penuh ampunan, bulan dilipatgandakan pahala, bulan dimana kita lebih mudah menjalankan ketaatan karena setan dibelenggu dan pintu surga dibuka. Bulan Ramadhan yang mulia ini akan meninggalkan kita lagi. 


Kawan, adakah kalian sudah menjalankan semua program yang sudah direncanakan? Mari kita evaluasi lagi. Jika masih ada program yang belum dikerjakan, ini masih ada beberapa hari yang kita bisa maksimalkan ibadah.


//Tinggalkan Kebahagiaan Semu Demi Lailatul Qodar//


Kerahkan sekuat tenaga agar bisa menjalankan ibadah lebih baik. Tinggalkan kesenangan semu seperti jalan-jalan tak bertujuan atau sekedar cuci mata melihat aneka perhiasan dunia. Kalaupun harus menyiapkan keperluan lebaran, secukupnya saja. Setelah terpenuhi segala kebutuhan, misalnya membelikan baju lebaran anak-anak, menyiapkan kue lebaran, menghias rumah, menyiapkan keperluan dapur atau yang lainnya. Lakukan sewajarnya, dan jangan sampai menghabiskan waktu dan tenaga.


Jangan sampai urusan seputar persiapan lebaran melenakan diri kalian.  Jangan sampai mengganggu agenda ibadah yang sudah direncanakan sebelumnya. Itu hanyalah kesenangan semu yang bisa menggelincirkan hawa nafsu. Maka harus berhati-hati dan waspada. Tetap menjaga hati dan iman yang sudah dibina semenjak awal Ramadhan. 


Justru seharusnya, di hari-hari terakhir Ramadhan seperti ini kita harus lebih fokus mrnjalankan ibadah. Bahkan Rasul akan memprioritaskan waktunya untuk beri'tikaf di masjid bersama keluarganya pada sepuluh terakhir Ramadhan begini. Hingga beliau mengencangkan ikat pinggang agar bisa maksimal menjalankan ibadah.


//Apakah Lailatul Qadar itu ?//


Kawan, tahukah kalian mengapa banyak orang berlomba-lomba menjalankan i'tikaf di masjid? Sebagai umat Rasulullah saw, kita hendaknya mengikuti apa yang dicobtohkan oleh Rasulullah sang teladan. Pada sepuluh terakhir Ramadhan, ada anugerah luar biasa dari Allah swt yang hanya diberikan kepada umat Rasulullah saw. Yaitu malam lailatul qodar. Sebuah malam yang penuh keutamaan.  Malam yang keutamaannya

melebihi seribu bulan. 


"Tahukah kamu, apakah lailatul qodar itu? Lailatul qodar itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. (TQS al-Qodar : 2-3)


Hal ini bermakna bahwa menghidupkan lailatul qodar dan beramal di dalamnya, lebih baik dari menghidupkan seribu bulan. Dengan kata lain, jika kita menghidupkan lailatul qodar, lebih baik dari pada pahala beribadah selama kira-kira 83 tahun 3 bulan (Ibnu al-Jauzi, At-Tadzkirah fal-W\'izh, 1/218)


MasyaaAllah, luar biasa kasih sayang Allah kepada umat Rasulullah saw. Hal ini belum pernah diberikan kepada umat sebelumnya. Dengan harapan umat Rasulullah saw yang usianya tidak panjang seperti umat-umat terdahulu. Agar tidak kalah ibadahnya, karena ada malam lailatul qodar. 


Kawan, sungguh teramat disayangkan jika ada umat yang hanya sibuk kesenangan dunia, seperti urusan penampilan di hari raya. Tetapi mengabaikan urusan akheratnya, meraih keutamaan lailatul qodar. Karena ada kebaikan lain jika kita menghidupkan lailatul qodar dengan pengampunan dosa-dosa di masa lalu. 


Rasulullah saw bersabda, "Siapa saja yang menghidupkan lailatul qodar dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhari dan Muslim) 


//Allah Merahasiakan Lailatul Qodar//


Kawan, karena begitu besarnya keutamaan lailatul qodar, maka Allah merahasiakan keberadaan malam tersebut. Sungguh ini sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Dengan begitu, kita akan selalu siap menunggu kedatangannya setiap malam.


Walau demikian, Rasulullah saw memberikan petunjuk bahwa lailatul qodar terjadi di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.


"Carilah oleh kalian lailatul qodar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan." (HR al-Bukhari dan Muslim).


Yang menjadi pertanyaan mengapa Allah swt merahasiakan keberadaan lailatul qodar?


Menurut Imam an-Nasafi,  "Allah merahasiakan keberadaan lailatul qodar agar kaum muslim bersungguh-sungguh beribadah di seluruh malam Ramadhan." (Najhah al-Majalis wa al-Muntakhab an-Nafa'is,  1/162)


Sedangkan menurut Imam al-Ghazali, maksud Allah swt menyembunyikan keberadaan lailatul qodar agar manusia melipatgandakan kesungguhannya dalam mencari malam tersebut.  (al-Ghazali, Ihya 'Ulum ad-Din, 3/121)


Kawan, coba bayangkan, seandainya Allah memberi petunjuk kapan terjadinya lailatul qodar,  maka umat hanya fokus ibadah di malam tersebut. Lantas, bisa dibayangkan betapa ramainya masjid-masjid malam itu.  Umat berdesak-desakan untuk bisa masuk masjid dan bisa mendapat tempat untuk beribadah. 


Lantas, di malam lainnya,  dibiarkan lengang tidak banyak yang beribadah ke masjid. Karena merasa sudah cukup ibadah di malam datangnya lailatul qodar tersebut. Bukankah hal itu akan merugikan dirinya sendiri? 


//Beribadah di Setiap Waktu//


Kawan, Allah menciptakan kita untuk beribadah itu selama hidup kita. Tidak dikhususkan malam tertentu saja, walaupun pahalanya berlimpah. 


Mari kita mencontoh para salafush-shalih. Bagi mereka, kesungguhan dalam beribadah tak hanya khusus pada malam lailatul qodar, tapi juga malam-malam lain. Tak khusus bulan Ramadhan, tapi juga bulan-bulan lainnya.


Mereka senantiasa bersungguh-sungguh beribadah setiap malam sepanjang usia kehidupan mereka. 

Sebagaimana kata Syaikh Abul 'Abbas : 

"Seluruh waktu kami adalah Lailatul qodar. Artinya, ibadah kami setiap waktu senantiasa berlipat ganda." (Abbul 'Abbas, 

Iqazh al-Himam Syarth Matan Al-Hikam,  1/62)


Begitu pula kata ulama yang menyatakan,  "Bagi seorang arif (Orang yang mengenal Allah swt),  setiap malam kedudukannya sama dengan lailatul qodar." (Abu Thalib al-Makki,  Qut al Qulub,  1/119)


Maksudnya, ibadah mereka setiap malam senantiasa berlipat ganda sebagaimana ibadah mereka pada malam lailatul qodar. 


//Maksimalkan Detik Ramadhan yang Tersisa//


Kawan, begitu besar keutamaan lailatul qodar. Apakah kita rela jika malam itu datang tanpa ada nilai ibadah bagi kita? Tentu tidak. 


Untuk itulah kawan, mari kita maksimalkan kesempatan. Masih ada beberapa hari sebelum bulan Ramadhan betul-betul pulang. Jangan biarkan detik Ramadhan berjalan, tanpa ada amal kebaikan yang dijalankan. 


Kawan, mari saling mengingatkan. Semoga kita bisa menjalankan ibadah dengan baik di waktu mendekati penghujung Ramadhan ini. Kita kerahkan segala daya upaya. Kalau perlu kita tekan, hal-hal yang bernuansa keduniaan, untuk kita alihkan pada aktivitas yang mendatangkan pahala dan ridlo Allah. 


Tidak ada jaminan kita bisa menemui Ramadhan tahun depan. Kalaupun mungkin bisa bertemu, "Siapa yang bisa menjamin kita tetap sehat dan kuat?"


Untuk itulah, mari kita maksimalkan detik Ramadhan yang tersisa demi meraih keberkahan bulan Ramadhan, keutamaan lailatul qodar, dan terutama keridloan Allah swt. 


Wallahu a'lam bisshawab



Surabaya, 2 Juni 2019


#YukItikafRamadhan

#MemburuLailatulQodar


Posting Komentar

0 Komentar