Ketaqwaan Kepada Illahi Raih Kemenangan Sejati



Oleh : Dina Evalina 

(Aktivis Dakwah Kal-Sel) 

Bulan Ramadhan telah berlalu, hingga kini kita berada di bulan kemenangan. Namun yang menjadi pertanyaan di hari-hari selanjutnya. Sudahkah kewajiban puasa yang dilakukan di bulan mulia tersebut membuat kita, keluarga, masyarakat, pemimpin kita menjadi insan yang bertaqwa ? Sudahkah pemimpin kita mampu menjadikan rakyatnya sebaik-baik Umat serta mewujudkan negeri yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan menerapkan seluruh hukum Allah? 

Pada faktanya umat Islam saat ini belum menjadi umat terbaik. Kedzoliman acap kali menerpa Umat Islam, murahnya nyawa mereka direnggut, bercucuran darah membasahi tanah kelahiran mereka, seperti yang kita saksikan di bumi Para Syuhada Syam menjadi saksi atas kebejatan rezim dzolim. Di dalam negeripun tak luput dari sorotan publik, lebih dari 600 anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meregang nyawa dalam perhelatan Akbar pesta demokrasi, yang kemudian dinodai dengan aktivitas kecurangan. Tak cukup sampai disitu, umat Islam kembali mengisak Tangis atas tewasnya saudara-saudara mereka dalam aksi menuntut keadilan di depan gedung Bawaslu.  

Jauh panggang dari api, keadilan yang dinanti-nanti justru semakin menjauh dari pihak oposisi. Saat umat Islam menuntut keadilan atas penistaan kitab suci mereka, menuntut keadilan atas kriminalisasi ulama mereka serta simbol-simbol Agama mereka, seolah sulit bagi aparat dan pemerintah menangani kasus demikian sehingga hukuman yang ringan dan ucapan maaf dari sang penista sudah cukup untuk menutupi kesalahan yang dibuat.  

Terlebih saat bicara tentang kesejahteraan, sungguh ironis negeri ini lebih dari setengah abad merdeka namun kehidupan masyarakatnya jauh dari kata sejahtera. Kemiskinam serta kelaparan masih setia mewarnai kehidupan. Kesejahteraan merupakan salah satu human basic need, dimana sangat diperlukan oleh manusia untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Berbagai macam cara akan dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kondisi yang jauh dari sejahtera membuat manusia dapat menghalalkan segala cara. Maka tindak kriminalitas seperti mencuri, merampok, hingga menggadaikan harga diri terpaksa dilakukan demi menyambung kehidupan. Saat keadilan, kesejahteraan, dan keamanan sudah tak lagi dirasakan. Maka Upaya memisahkan diri dari Negeri ini pun kerap dilakukan. Yang tentu hal demikian sangat tidak kita harapkan. 

Semua itu menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengurusi urusan rakyat, kegagalan pemerintah membentuk masyarakat yang bertaqwa sebagai modal dasar membentuk negeri ini menjadi Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang dipenuh dengan kemakmuran dan berlimpah ampunan dari Allah SWT. Negara yang baik, kehidupan masyarakatnya baik, bertaqwa kepada Allah SWT, menaati aturan-aturan-Nya dan menjauhi perbuatan hina dina, kesejahteraan dirasakan, keadilan ditegakkan, keamananya terjaga.  

Namun mustahil pemerintah dapat mewujudkan masyarakat yang bertaqwa serta negeri yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur jika masih mempertahankan sistem sekulerisme yang telah lama bercokol di negeri ini. Mengapa ? Karena pada dasarnya sistem ini lahir dari ide pemisahan Agama dari kehidupan. Agama dibatasi hanya mengatur urusan ibadah ritual. Dan tak ada ruang bagi Agama mengatur sendi kehidupan. 

Dari sistem ini lahir pula ide-ide yang menyesatkan, semakin menjauhkan masyarakat dari Agamanya. Seperti Kapitalisme, hedonisme, pluralisme, feminisme, nasionalisme, demokrasi selalu berputar mengelilingi sekulerisme.  

Lihatlah negeri ini, Sumber Daya Alam melimpah ruah berbagai jenis bahan tambang seperti petroleum, timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, batu bara, emas, dan perak. Ditambah hasil hutan dan laut yang memperkaya tanah air ini. Kendati demikian, Sumber Daya Alam melimpah nyatanya tak memberi pengaruh yang signifikan terhadap taraf hidup masyarakat dalam negeri. Karena Sumber Daya alam yang dimiliki, Para Kapital pemilik modal lah yang menikmati. Dengan mudahnya negeri ini menyerahkan kekayaan alam tersebut bahkan kebijakan- kebijakan yang dibuat pun memuluskan eksploitasi oleh Para Kapital Asing dan Aseng. 

Infrastruktur yang dibanggakan, pada akhirnya menghasilkan biaya tiket yang melambung, bukti infrastruktur tak berpihak kepada rakyat. Yang ada justru membuat beban hutang negeri ini semakin meningkat untuk memenuhi biaya pembangunan. Kemudian beban hutang luar negeri yang mencapai angka Rp 5.542,6 triliun (kurs Rp 14.300). Semuanya berbasis Riba yang sangat jelas Allah SWT haramkan, dibebankan kepada rakyat untuk menanggung lewat mekanisme pajak. Hal ini semakin menambah penderitaan rakyat.  

Sistem sekulerisme yang melahirkan ide demokrasi dengan slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Mendapat komentar dunia, menurut Laporan Pusat Penelitian Pew baru berdasarkan survei dari 27 negara yang dilakukan pada musim semi 2018 menyatakan lebih banyak orang di seluruh dunia tidak puas daripada puas dengan cara demokrasi bekerja di negara mereka. Termasuk di negeri ini, mempertontonkan bobroknya demokrasi dengan membungkam suara rakyat yang kritis sebagai tuduhan makar, anti Pancasila, anti kebhinekaan, pemecah belah negara dan sebagainya. 

Sistem yang tidak berkolerasi dengan kesejahteraan, keadilan dan keamanan ini layak untuk diganti dengan seperangkat sistem yang terbukti mampu mewujudkan itu semua. Membentuk diri menjadi umat yang terbaik, insan yang bertaqwa, mentauhidkan Allah , mengimani apa yang Rasulullah SAW sampaikan dan menjadikan negeri ini Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan menjadikan hukum-hukum Allah berdaulat mengatur seluruh lini kehidupan sehingga kemenangan sejati berupa kemakmuran, kesejahteraan, keadilan, keamanan serta Berkah Allah benar-benar dapat kita rasakan. Allah SWT berfirman : "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu." ( TQS Al-A'raf : 96 ) 

Sehingga belum bisa dikatakan masyarakat bertaqwa sebelum menjadikan hukum-hukum Allah sebagai landasan dalam perbuatan. Tidak dikatakan bertaqwa pemimpin yang belum mau menerapkan hukum-hukum Allah secara kaffah dalam mengatur seluruh aspek kehidupan negara yang ia pimpin. 

Dengan menerapkan hukum-hukum Allah dalam semua aspek kehidupan mampu menciptakan negara adidaya yang menjadi pusat perhatian dunia pada masanya. Mampu menggentarkan musuh-musuh kafir barat saat mendengar para pasukannya. Mampu menundukkan 2/3 dunia dalam naungan Syariat-Nya hingga bertahan selama lebih dari 13 abad lamanya.  

Indahnya masa itu, masa kejayaan umat manusia yang mau tunduk dengan hukum-hukum Allah. Kesejahteraan sangat dirasakan, keadilan ditegakkan, keamanan dijaga dengan baik. Berdampingan hidup dengan masyarakat Yahudi, Nasrani dengan saling menghargai. Membebaskan negeri-negeri yang tertindas, meraih kemuliaan dengan kemenangan-kemengan yang diraih dalam jihad fi Sabilillah. 


Posting Komentar

0 Komentar