Jebakan Kompetisi Perlu Dikritisi

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Pengasuh Grup Online Obrolan Wanita Islamis(BROWNIS)


Hari ini, meskipun belum semua ajaran Islam diterima masyarakat dunia, tak terkecuali oleh kaum muslimin sendiri. Namun geliat kearah kebangkitan pemahaman bahwa Islam itu rahmat dan kedamaian mulai nampak. Gelombangnya cukup kentara hingga mampu menyedot perhatian, masyarakat mencari-cari sesuatu, entah itu istilah maupun produk yang berbau syariat.

Peluang inilah yang ditangkap para kapitalis. Moment mendulang pundi-pundi keuntungan makin mendekat ketika passion para milenial menyukai fashion syari. Berhijab, bermake up dan bergabung dalam komunitas hijabers ataupun kajian-kajian Islami.

Berbagai kompetisi digelar atas nama syari. Kaum muslimah disodori sebuah gaya baru menunjukkan eksistensi diri tanpa harus melepas identitas mereka sebagai muslimah. Tanpa harus melepas apa yang syariat wajibkan.  Semisal acara Hijab Hunt dan lain-lain. Istilah syari menjadi pangsa pasar tersendiri, yang menciptakan trend terbaru sekaligus mengundang riuhnya dollar. Para kapitalis ini begitu jeli, menangkap peluang, namun satu yang mereka abai. Dampak negatif yang akan ditimbulkan. Jebakan kompetesi dan terkikisnya kemuliaan kaum muslimah.

Karena, bisa dipastikan kriteria yang diinginkan para pemburu talenta itu tentu diatas standar. Mereka yang ikut kompetisi harus cantik, punya keahlian atau bakat tertentu dan harus  bersedia terikat dengan semua peraturan panitia pencariaan bakat ini. Untuk apa? bukan hanya untuk mencari bibit terbaik, namun untuk tujuan investasi dan kapitalisasi yang lebih banyak lagi. Minimal akan menjadi kapstok yang mempromosikan  produk mereka sepanjang tahun dengan sebutan ambassador atau duta.

Di sinilah kita sebagai kaum muslimah harus berpikir kritis. Apakah benar perempuan muslimah akan mendapatkan kemuliaannya dengan cara itu? terlebih sebagai hamba Allah yang taat, apakah kontes-kontes itu sudah sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang Allah?

Dalam Islam. Perempuan tak ada larangan untuk berprestasi.  Sebut saja nama Mariam al-Astrulabi, lengkapnya Mariam al-Ijliya al-Astrulabi. Ayahnya merupakan pembuat Astrolabe terkenal, yaitu sebuah perangkat rumit untuk navigasi darat dan penunjuk waktu. Semasa hidupnya, Mariam al-Astrulabi juga menjadi murid ayahnya. Ia bekerja membangun astrolab di sebuah daerah bernama Aleppo, Suriah utara. Sebuah astrolab dengan kompleks, ia membuatnya seperti GPS. Dengan alat tersebut, kita hari ini dapat menentukan arah kiblat yang benar, membantu dalam navigasi, ketepatan waktu dan astronomi. Eropa menggunakan astrolab ini sampai abad 18. Dengan astrolab, Eropa terbantu dalam penemuan geografis di renaisans tersebut.

Atau  Fatimah al-Fihri , dialah wanita pertama penggagas hadirnya universitas di dunia. Ia berasal dari kota Qairouan, sekarang dikenal dengan nama Tunisia. Fatimah, putri dari Mohammad bin Abdullah al-Fihri saudagar kaya di kota Fes ini sudah mendonasikan harta warisan dari kekayaan ayahnya untuk pendirian universitas dengan nama Universitas Qairouan, atau Universitas al-Qarawiyyin. Universitas ini berdiri pada tahun 859 M di kota Fes, Maroko.

Dalam Islam, perempuan berprestasi dan mulia bukan karena standar manusia. Bukan karena fisik dan kecantikan mereka, yang memang menjadi karunia bagi wanita. Namun lebih kepada ketaatan mereka kepada Allah, sehingga amal-amalnya tidak sedikitpun melanggar syariat.

Syariat, yang hari ini dilecehkan oleh sekulerisme namun dibalut dengan apik oleh kapitalisme. Sebuah kesuksesan hanyalah dipatok ketika mereka menang kontes dan dunia "melihat" keberadaan mereka dalam sosok yang sebenarnya hanya diinginkan dunia, palsu, karena mereka "mulia" jika mau taat dengan aturan panitia, tanpa sadar mereka telah dieksploitasi baik tubuh maupun kecantikan mereka oleh kepentingan para produsen.

Kondisi ini jelas harus dirubah. Agar tak mendatangkan azab Allah lebih besar lagi. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda:

Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya yaitu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali),” (HR. Muslim dan yang lain).

Secara dampak sosialpun kini marak para gadis rela menjual keperawanan mereka demi sebuah peran dalam film atau sinetron, kemewahan dan gemerlap dunia. Kapitalisme membutakan mata hati wanita muslimah. Penipuan sekulerisme yang meniadakan ketakwaan. Padahal wanita adalah tiang agama, ibu dan pencetak generasi cemerlang dan tangguh. Dari rahim merekalah lahir penerus peradaban. Namun bagaimana jadinya jika wanita sudah dirusak sejak awal dengan aturan yang batil?

Wahai para muslimah, hiasilah dirimu dengan ketaatan yang sebenar-benarnya ketaatan kepada Allah. Tubuhmu bukan komoditas. Tempalah kepribadianmu dengan ketakwaan dan ketundukkan. Kecantikanmu hanyalah untuk suamimu, bukan khalayak ramai bahkan para kapitalis rakus itu. Jelas hanya Islamlah yang mampu menghentikan perempuan dari kehancuran yang lebih parah sebagaimana yang hari ini ditunjukkan oleh sekulerisme.

Wallahu a' lam biashowab.




Posting Komentar

0 Komentar