Gamers & Liberalisasi Lifestyle

Oleh: Fatimah 

Siswi SMP Negeri 1 RancaekeK

Telah ramai di pemberitaan bahwa adanya seorang gamers online berinisial YS ditangkap oleh jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Perempuan berusia 26 tahun ini ditangkap setelah membobol bank sebesar Rp1,85 miliar lewat sebuah games online, Mobile Legend.

"Dimana tersangka perempuan, YS, tidak bekerja, asal Pontianak, berhasil bobol bank sehingga salah satu bank ini mengalami kerugian Rp1,85 miliar," kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Ary Syam Indradi di Mapolda Metro Jaya, di Jakarta, Sabtu, 18 Mei 2019. (viva.co.id/18/5/2019)

Ade Ary menjelaskan bahwa YS menyadari apa yang diperbuatnya telah merugikan pihak lain. Dimana, YS membeli sebuah peralatan di Mobile Legend namun tidak menggunakan uangnya. YS menggunakan cheat sehingga uang yang ada di akunnya tidak berkurang.

Seperti yang kita tahu bahwa game online ML ini menjajikan hadiah berupa uang. Tentu game ini menjadi banyak diminati oleh orang orang, ntar itu remaja ataupun bahkan orang dewasa. Tapi jika game ini menjanjikan hadiah, tentu kita sebagai pemain juga harus mengikuti persyaratan. Seperti contoh ; melengkapi perlengkapan untuk game dengan cara membelinya. Membelinya pun tentu membutuhkan uang real. Tidak heran bahwa pelaku kali ini sampai membobol bank bahkan sampai milyaran.

Inilah kriminal yang terjadi, dimana awal mndengar pemberitaan tersebut membuat tercengang karena seorang remaja bisa membobol uang bank hingga Rp. 1,85 M. Namun inilah yang terjadi ketika pola pikir kapitalis sudah merasuki jiwa-jiwa para remaja. Yang mana berawal dari hobi sehingga terbentuk sikap malas dalam melakukan ibadah,tugas-tugas rumah dan sekolah. Dari kemalasan terbentuk pula bagaimana meraih uang atau materi sebanyak-banyaknya dan menjadikan materi sebagai tolak ukur dalam menjalankan setiap aktifitas tanpa dipertimbangkan hukum halal dan haramnya. Inilah pemikiran Liberalis-Kapitalis yang terbentuk pada sebagian besar remaja d negeri ini yang berawal dari game online.

Ini merupakan tugas yang besar untuk membenahi pola pikir remaja yang terbentuk. Ini tugas kita semua yang baik antara keluarga, masyarakat ataupun pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut dengan peningkatan kualitas pendidikan, dan sarana prasarananya demi meningkatkan kualitas generasi muda. Sebetulnya banyak orang orang yang berprestasi di generasi ini, hanya saja pemerintah sangat kurang dalam memfasilitasi semua itu. Bukan hanya kurangnya kepedulian dari pemerintah, pemerintah juga lalai dalam melindungi generasi dari kerusakan.

Kita harus menyadarkan umat akan adab dan harus terus dideraskan dengan pemahaman yang benar, bukan pragmatis. Perlu dipahamkan juga bahwa, kekuasaan bukanlah segalanya. Kekuasaan adalah untuk menegakkan hukum syara, sehingga hubungan masyarakat dan umat adalah saling menguatkan dalam ketaatan dengan menghidupkan budaya amar ma'ruf nahi munkar. Hal ini bisa terwujud hanya dengan menegakka Khilafah yang menerapkan sistem islam, senantiasa mengatur umat termasuk remaja dari berbagai aspek sehingga membentuk jiwa-jiwa yang bertakwa yang mendorong mereka menjadi insan yang melek teknologi untuk menebarkan kemaslahatan demi perjuangan kebangkitan umat bukan sebaliknya membentuk manusia yang berjiwa pencuri.

Wallahu’alam Bi Shawwab.




Posting Komentar

0 Komentar