Duka di Hari Raya, Salah Siapa?

Oleh: Rosmiati, S.Si

Hari raya yang sejatinya menjadi ajang mempererat tali silaturahmi juga saat dimana menyulam benang ukhuwah yang telah rapuh berubah menjadi tirani bagi penduduk di desa Gunung Jaya dan Sampuabalo.

87 rumah ludes dilahap si Jago merah akibat dipicu oleh lemparan bom molotov dari beberapa pemuda dari desa Sampuabalo. Aksi pembakaran rumah ini adalah buntut dari peristiwa yang terjadi pada malam harinya (04 Juni 2019).  Berawal dari penggunaan knalpot racing oleh beberapa pemuda dari desa Sampuabalo yang ternyata sangat mengganggu kesyahduan malam hari raya bagi masyarakat di desa Gunung Jaya. Dua warga pun harus merenggang nyawa dalam tragedi ini. Sebanyak 700 orang penghuni kedua desa harus mengungsi ke desa tetangganya. Juga kerugian yang tak sedikit jumlahnya (Zonasultra.com, 9/06/2019).

Dari persitiwa ini,banyak warga yang kehilangan tempat tinggal juga harta benda. Sungguh peristiwa yang sangat disayangkan, apalagi terjadi di Hari raya seakan tidak lagi mengindahkan  suci dan sakralnya 1 Syawal tahun ini.

Nasional State mewariskan permusuhan?

Indonesia memang terlahir dengan banyak suku, ras dan agama yang beragam. Namun dibawah slogan ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’ perbedaan itu dikesampingkan.  Namun anehnya, bentrok antar warga, etnis, ras dan agama masih saja terjadi.
Tentu kita tidak dapat menutup mata dari peristiwa-peristiwa di masa lalu.  berawal dari persoalan kecil merembes menjadi konflik besar atas nama golongan bahkan agama. Dan kita pun menginginkan agar luka lama ini cukup terjadi kala itu. Jangan lagi terulang di masa kini. Begitu pula dengan yang terjadi pada kedua desa di Kabupaten Buton ini.

Akhir dari sebuah konflik memang selalu menyisahkan luka mendalam yang zahirnya telah sembuh namun sakit di dalamnya sulit untuk disembuhkan. Bahkan bekasnya dipelihara sebagai cerita pada generasi yang datang setelahnya. Beruntunglah jika yang datang setelahnya itu, telah bijak dalam memahami.  Jika tidak, maka bekas luka hanya akan menjadi pemicu lahirnya bibit-bibit dendam di dalam hati generasi. Untuk itu konflik sebaiknya dihindari.

Kendatipun demikian, sifat ingin dihargai, amarah dan lainnya memang merupakan sesuatu yang naluriah dalam diri setiap insan. Namun, semua akan teratur dan baik-baik saja jika hukum Syarah (aturan agama) yang tujuannya sebagai pengatur lagi pembatas setiap langkah seorang hamba, dihadirkan dalam kehidupan.
Sayangnya, saat ini umat manusia utamanya kaum muslimin hidup bukan dengan mengambil Islam sebagai panduan dalam kehidupan nyata. Islam hanya hadir dalam ibadah-ibadah mahdo semata tidak untuk urusan seluruh urusan hidupnya. Ikatan yang menjadi pengikat mereka pun adalah ikatan yang berasal dari luar keyakinannya. Konflik yang terjadi diantara masyarakat di dua desa di kabupaten Buton, sungguh sangat menciderai ikatan nasionalisme yang selama ini mengikat antara warga negaranya. 

Padahal ketika event-event nasional persatuan itu kian erat bahkan ketika dahulu terjadi clise antara Indonesia dan Malaysia semangat luar biasa atas nama nasionalisme sangat terasa dan nyata. Semua satu suara untuk membela.
Namun mengapa. Ketika ada cekcok sedikit dengan sesama golongan bahkan etnis sampai pada pembinasahan infrastruktur yang ada?. Akankah ikatan itu hanya berlaku ke luar, tidak ke dalam?

Ya, semua yang ada memang seakan dipertanyakan kembali eksistensinya. Semua berpangkal pada penerapan pola nasional state. Akibat hidup dalam sekat-sekat negara bangsa maka setiap negara hanya akan memikirkan nasib bangsanya sendiri. Pola ini ternyata menurun pada tingkatan kecil di bawahnya. Desa-desa yang ada pun kerap kali menunjukan hal yang sama. Terlebih lagi, adanya berbagai kompetisi-kompotesi yang tidak sedikit menjadi pemicu awal lahirnya sifat tidak saling suka dengan kelompok lain ataupun warga lainnya. Warga pun menjadi sensitif dan agresif ketika menemui clise sedikti saja dengan kelompok yang sebelumnya pernah mengalamai sedikit kesalahapahaman.

Persitiwa yang terjadi di desa Gunung Jaya dan Sampuabalo tentu sangat disayangkan. Sebab keduanya bukanlah orang lain. Hidup bertetangga, ras pun masih serumpun. Jenis makanan yang dimakan pun masih sama bahkan mungkin sebelumnya saling berbagai.  Juga nasib yang yang tidak jauh berbeda. Lalu mengapa harus bertikai?

Mari Semai Perdamaian 

Munculnya konflik diantara sesama kaum muslimin apalagi terjadi di hari yang disucikan oleh agama ini benar-benar menunjukan betapa umat   ini  sangatlah lemah dan terpuruk. Ia bahkan tidak mampu lagi membedakan mana lawan dan juga kawan. Jangankan sampai membunuh seorang insan yang berakal, binatang seperti semut pun dilarang untuk dibinasakan. Apalagi sampai menjatuhkan nyawa seseorang muslim serta membumihanguskan tempat tinggal dan harta benda. Sungguh sangat memilukan.

Sungguh momentum syawal merupakan moment yang tepat untuk kembali menyatukan asah yang sempat terurai.  Memaafkan itulah sebaiknya yang harus dilakukan sekalipun dibalik rekah senyum dalam jabatan tangan, luka masih menganga. Karena sejatinya kita diutus oleh Allah Swt dalam kehidupan ini  sebagai khalifah pengatur bumi dengan segalah isi yang telah diciptakanNya, juga sebagai penyebar rahmat bagi sesama.

Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi, "Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi rahmat) bagi semesta alam." Sebagai penyebar rahmat maka layaknya yang disebar adalah benih ke-maruf-an bukan pada kemungkaran.
Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar