Diskriminasi Khilafah dan Pengusungnya


Oleh: Siti Aminah, S. Pd.
(Komunitas Peduli Umat)

Akhir-akhir ini sederet masalah muncul di negeri yang kita cintai. Masalah itu muncul diakibatkan oleh membumingnya kata Khilafah. Ada sebagian orang mengatakan bahwa khilafah adalah Ideologi. Ada lagi yang mengaitkan bahwa khilafah menunggangi paslon 02. Dan yang paling parah adalah ada yang berargumen bahwa Khilafah memboncengi keruwetan pemilu 2019 atau yang mengacaukan persatuan dan kesatun negeri ini.

Para pejabat pun tidak ketinggalan untuk merespon dan menyampaikan ke berbagai media, baik media cetak ataupun media sosial terkait  masalah khilafah. Seperti yang dimuat TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pertahanan Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa ideologi khilafah dilarang di Indonesia.Menurutnya, ideologi tersebut dilarang karena ingin menggantikan pancasila.

Wiranto pun tak ketinggalan mengeluarkan argumennya. Seperti yang dimuat VIVA - Mentri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, menyebutkan sejumlah ancaman yang mengganggu kesatuan dan persatuan bangsa. Salah satunya kelompok Khilafah yang disebut masih membonceng dalam perhelatan Pemilu 2019.

Rezim kapitalisme sekuler pada dasarnya tidak akan pernah berhenti memerangi Islam dan kaum muslimin. Kita pasti dan selalu menemukan diberbagai Negara, baik Indonesia ataupun Negara luar yang menerapkan sistem sekuler tidak akan sejalan dengan Islam. Karena sangat jelas dan nyata bahwa ketika menyuarakan kebenaran atau menyuarakan Khilafah di rezim sekuler maka pasti dikonotasikan dengan keburukan.

Hal itu sah-sah saja, karena sistem sekuler adalah sistem yang memisahkan Agama dengan kehidupan. Seakan ketika membahas agama tidak ada urusannya dengan politik. Ketika ada kelompok yang membahas sistem pemerintaha Islam, membahas khilafah mereka perpendapat itu tidak sejalan dengan Islam. Islam hanya mengurus urusan shalat, zakat, haji, dan yang terikat dengan hubungan manusia dengan Tuhannya.

Para pengusung dan jargon-jargon Kapitalis Sekuler melihat dan mendengar kata Khilafah mereka panik dan ketakutan. Maka mereka melakukan berbagai cara untuk membendung bangkitnya Islam kaffah. Mereka melakukan berbagai manufer atau pendapat mengenai khilafah dan orang-orang yang memperjuangkan Khilafah. Bahkan mereka selalu mendiskriminasi, baik Khilafahnya ataupun orang yang memperjuangkannya. Mereka risih dengan seruan Islam, ajaran-ajaran Islam, serta kritikan-kritikan terhadap negeri ini. Dan merasa tampuk kekuasaan mereka akan direbut dengan adanya Khilafah.

Padahal jika kita membaca sejarah, dari zaman Rasulullah hiņgga ke khilafahan Turki utsmaniyah  maka kita akan menemukan agama Islam hidup rukun dan harmonis dengan agama lain. Ketika di Madinah misalnya, tiga agama hidup berdampingan di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW. Mereka diperlakukan sama baik muslim maupun non muslim. Tidak ada bentuk diskriminasi di dalam masyarakat yang hidup di pemerintahan Islam dalam naungan khilafah.

Rezim ini bisa saja melakukan kriminalisasi atas khilafah. Mereka bisa saja mebendung bahkan menggap khilafah tidak sejalan dengan zaman modern. Namun mereka tidak akan mampu membendung datangnya gelombang kebangkitan umat. Mereka tidak akan mampu menghalangi tegaknya khilafah sebagaimana mereka tak akan mampu menghalangi terbitnya matahari. Karena sesungguhnya Khilafah itu adalah sesuatu yang pasti. Sebagaimana janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah SAW.

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian bahwa Dia  sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa: akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka: akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutu-kan apapun dengan-Ku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah (janji) itu. Mereka itulah kaum yang fasik (QS. An-Nur: 55)

Dan Tentu saja bentuk diskriminalisasi tidak akan membuat para pengemban dakwa yang kaffah berhenti untuk menyuarakan ide khilafah. Malah semakin kalian diskriminasi maka semakin banyak yang akan memperjuangkannya. Dan tidak  menjadikan hina bagi para pengembannya karena ucapan-ucapan mereka. Sesungguhnya mereka yakin bahwa di sisi Allah justru mereka mendapat kemulian yang paling tinggi.

فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
"Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik," (Qs. Ali Imron: 195).

Janji inilah yang akan terus berkobar di dalam jiwa-jiwa muslim yang memperjuangkan islam kaffah. Tidak akan mundur hanya karena ada diskriminasi. Khilafah itu adalah ajaran islam. Khilafah yang akan menyatukan muslim ataupun non muslim. Khilafah pula yang akan menyelamatkan saudara-saudara kita yang terus terzolimi.

Tentu khilafah bukanlah ancaman atau yang akan menghancurkan kehidupan kita. Tetapi khilafahlah yang akan menyelamatkan kehidupan kita dari bentuk-bentuk diskriminasi para kafir penjajah dan pengusung rezim kapitalis sekuler. Karena seruan ini adalah seruan hakiki dari Robb kita Allah SWT dan Rosull kita Muhammad SAW. Wallahu A’lam Bisshawab.

Posting Komentar

0 Komentar