DEMOKRASI YANG BERDARAH

Oleh: Arsy Novianty


Pada malam hari tanggal 21 Mei telah di umumkan bahwa Paslon no 1 sebagai pemenang pemilu tahun 2019,. Pengumuman pemenang  yang jadwalkan tanggal 22 mei  justru dimajukan. 

Berbagai kecurangan yang viral di media sosial  diabaikan. Hal ini tentu memicu kegoncangan di tengah-tengah masyarakat. Yang pada akhirnya mendorong masyarakat datang ke Jakarta untuk meminta keadilan, naas datang kesana dengan penuh damai, disusupi provokator yang merusak suasana akhirnya  timbul korban, nyawa melayang dan korban yang mengalami luka-luka. 


"Kita menghadapi sebuah tragedi di dalam demokrasi kita. Sudah jatuh korban dari KPPS, lebih dari 600 orang meninggal yang tidak mendapatkan satu perhatian memadai, kemudian sekarang ada 8 orang, ada juga informasi yang menyebutkan 16 orang yang meninggal di dalam penanganan aksi demonstrasi 21-22 Mei," ujar Fadli Zon. (Tribunwow.com) Atas banyaknya korban tersebut, Fadli menilai nyawa di Indonesia seperti tidak dihargai sepadan. "Nyawa di Indonesia sepertinya murah dan sambil lalu saja. Kemudian di bahas kemudian tidak ada pertanggungjawaban," ungkap Fadli.Ia lantas menyebutkan adanya sejumlah bukti yang memperlihatkan bahwa ada oknum aparat yang menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power).


Sungguh sangat disayangkan sekali, dalam pemilu kali ini memakan banyak korban. Bukan hanya 1,2 orang tapi mencapai ratusan yang meninggal dunia. Ini nyawa manusia bukan hewan, hewan sekali pun harus di lindungi, tapi kenapa nyawa manusia seperti sudah tidak ada lagi harganya. 


Membunuh orang dengan tanpa Haq itu dilarang, lalu bagaimana jika yang dibunuh dengan sengaja adalah jiwa manusia ?  Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengancam pelakunya dengan ancaman berat, sebagaimana firman-Nya :


وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا


Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya. [an-Nisâ`/4:93]


Apabila sistem yang tidak berlandaskan Qur'an dan Sunnah, kepimpinan yang merupakan amanah tidak dijalankan dengan sebaik mungkin, tidak ada rasa takut pada Allah Sang Pencipta, berusaha membuat aturan sendiri bukan aturan yang telah Allah berikan. Sehingga pantas jika hidup di bawah sistem seperti ini menuai banyak masalah, kehidupan yang jauh dari sejahtera, ulama di kriminalisasi dan masih banyak lagi permasalahan yang terjadi, apalagi hutang yang semakin melambung tinggi. Tak mampu di bayar bahkan bunganya sekalipun, kekayaan alam yang berlimpah ruah habis dikuras oleh aseng dan asing.


Lalu bagaimana solusinya untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada? Tidak ada lagi solusi terbaik selain kembalinya sistem Islam yang berlandaskan Al-Quran dan Sunnah. Sungguh fakta sejatah tidak bisa terbantahkan, ketika hidup di bawah naungan sistem Islam kehidupan sejahtera, karena seorang Khalifah akan menjalankan amanahnya sebaik mungkin, karena urusan nya bukan lagi pada manusia melainkan pada Allah Sang Pencipta. takutnya sang pemimpin akan murka-Nya membuat Sang Khalifah tidak akan lagi memikirkan kepentingan pribadi melainkan lebih fokus pada kepentingan rakyat. Rakyat dilindungi penuh kedamaian. 

Wallahu alam.

Posting Komentar

0 Komentar