Demokrasi Gagal, saatnya Revolusi Global

Oleh: Ummu Zayta 


Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Fadli Zon menyebutkan, masyarakat Indonesia kini sedang menghadapi sebuah tragedi di dalam demokrasi Indonesia.(tribunnews.com/25/05/2019)

Fadli Zon menjelaskan, dirinya menyampaikan hal tersebut berdasarkan adanya ratusan korban yang gugur selama proses pemilu 2019 berlangsung.

"Kemudian dalam penanganan unjuk rasa itu juga kita melihat tidak profesional penanganan aparat. "Dan menurut saya ini sangat berbahaya bagi demokrasi kita ke depan," tandasnya (tribunnews.com/25/05/19)

Marah pada elit politik, ketidakpuasan ekonomi dan kecemasan tentang perubahan sosial yang cepat telah memicu pergolakan politik di daerah seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Para pemimpin, partai, dan gerakan anti-kemapanan telah muncul di kanan dan kiri spektrum politik, dalam beberapa kasus menantang norma-norma mendasar dan lembaga-lembaga demokrasi liberal. Organisasi dari Freedom House hingga Economist Intelligence Unit hingga V-Dem telah mendokumentasikan penurunan global dalam kesehatan demokrasi.

Seperti yang telah diilustrasikan oleh survei Pusat Penelitian Pew sebelumnya, ide-ide inti dari demokrasi liberal tetap populer di antara publikasi global, tetapi komitmen terhadap demokrasi tetap lemah. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kurangnya komitmen ini, termasuk persepsi tentang seberapa baik demokrasi berfungsi. Dan seperti yang ditunjukkan oleh temuan dari survei Pew Research Center baru, pandangan tentang kinerja sistem demokrasi jelas negatif di banyak negara. Di 27 negara yang disurvei, median 51% tidak puas dengan bagaimana demokrasi bekerja di negara mereka; hanya 45% yang puas.(Pew Research Center/ 29/04/2019)

Analisis bivariat dan regresi multilevel menunjukkan bahwa, di antara faktor-faktor yang diteliti, ketidakpuasan terhadap demokrasi terkait dengan frustrasi ekonomi, status hak-hak individu, serta persepsi bahwa elit politik korup dan tidak peduli tentang warga negara biasa. Selain itu, di Eropa hasilnya menunjukkan bahwa ketidakpuasan dengan cara demokrasi bekerja terkait dengan pandangan tentang UE, pendapat tentang apakah imigran mengadopsi kebiasaan dan sikap nasional terhadap partai-partai populis.

Ini adalah di antara temuan survei Pusat Penelitian Pew yang dilakukan di antara 30.133 orang di 27 negara dari 14 Mei hingga 12 Agustus 2018 (Pew Research Center/ 29/04/2019). 

Masyarakat internasional kian tidak puas terhadap demokrasi karena ternyata tidak berkorelasi dengan kesejahteraan, jaminan mengemukakan pendapat dan keadilan sistem peradilan. Buktinya, integritas pemilu 2019 di Indonesia tercoreng dengan kecurangan yang terstruktur, sistematis dan massif.  

Kebobrokan demokrasi bukan hanya prosedural tapi substansial, sehingga tidak layak digunakan sebagai sistem politik.

Berbeda dengan Islam, yang mana Islam bukan hanya sebagai agama tetapi sekaligus ideologi yang memiliki sistem politik paripurna yang jelas terbukti diterapkan dalam kurun 13 abad lamanya. Selang waktu itu hanya terjadi 200 kasus kriminalitas, artinya sekitar 6 kasus terjadi dalam 1 tahun. Namun dalam Demokrasi, kriminal terjadi tiap detik, bukan lagi hitungan jari melainkan tak terhitung banyak jumlahnya.

Oleh karenanya, kini saatnya kembali kepada sistem pemerintahan Islam yang digagas oleh sosok terbaik di dunia nabi Muhammad saw., yakni sistem Kekhilafahan Islamiyah ala minhajin An-nubuwwah. Kepemimpinan satu untuk seluruh dunia yang mampu menghilangkan sekat negara bangsa yang selama ini terpecah belah serta mampu menyatukan perbedaan yang selama ini diauburkan oleh demokrasi.

Posting Komentar

0 Komentar