Demokrasi Bukan Jalan Perubahan Hakiki

Oleh : Zahida Arrosyida


Pemilu 2019 telah menyedot anggaran yang sangat besar yakni 24,7 Trilyun. Itu artinya ada kenaikan sebesar Rp 600 milliar dibandingkan Pemilu 2014 yang saat itu menelan biaya Rp 24,1 triliun. Miris meskipun berbiaya besar, sarana sangat minim dari aspek safety. Misal kotak suara yang hanya dibuat dari bahan dasar kardus. Lebih mahal dibandingkan biaya untuk membangun gedung tertinggi di Dubai, Burj Khalifa yang menghabiskan dana 21 triliun.


Tidak hanya menelan biaya besar. Pemilu 2019 juga dicatat sebagai Pemilu yang banyak menelan korban jiwa petugasnya. Seperti yang diungkapkan Ketua Umum Gerakan Laskar Pro 08 (GL Pro 08), Jimmy CK. SE. AK yang meminta kepada pemerintah untuk segera mengusut tuntas meninggalnya  700  orang petugas KPPS dan lebih dari 11 ribu petugas  lainnya yang dirawat di rumah sakit.


Jimmy juga mendesak Komnas HAM untuk segera mencari fakta sesungguhnya penyebab kematian korban.


"Kita sebagai rakyat meminta kepada Komnas HAM untuk mengatakan yang sebenar-benarnya.  Katakan iya kalau memang ada sesuatu yang dicurigai, katakan tidak kalau memang tidak," Ujar Jimmy usai melakukan buka bersama di Markas GL Pro 08, Jl. Matraman Dalam 1, Jakarta (17/05/19).


Namun sungguh ironis meskipun telah menelan biaya besar dan menelan korban, demokrasi yang diharapkan bisa membawa perubahan ternyata tidak seindah impian yang diidamkan rakyat. Rakyat harus menelan kekecewaan. Selasa dini hari, tanggal 21 Mei 2019 Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin sebagai pemenang pilpres 2019. Jumlah suara sah pasangan urut no 1 ini 85.607.362 (55%) suara. Sementara jumlah nomor urut 2 sebesar 68.650.239 (44,5%) suara. Ini sungguh melukai harapan rakyat. Banyak kejanggalan yang ditemukan. Proses dan hasilnya tidak sesuai harapan. Pemilu kali ini penuh kecurangan dan banyak ditemukan keganjilan. Kecurangan terjadi secara terstruktur, sistematis,masif dan brutal.


Kejanggalan itu bisa disaksikan dengan mata telanjang dan sangat jelas. Jika merujuk pada versi kampanye, paslon 02 tak pernah sepi dari massa. Sebaliknya kampanye paslon 01 selalu sepi meski sudah mengerahkan berbagai institusi untuk mendatangkan massa. Inilah anomalinya. Wartawan senior Asy'ari Usman dan seorang pakar pemerintahan menjelaskan, dimanapun di belahan dunia, ramainya kampanye berkorelasi positif dengan kemenangan. Bukan malah sebaliknya.


Demokrasi digembor-gemborkan sebagai pemerintahan yang kedaulatannya terletak di tangan rakyat. Padahal ini hanyalah mimpi di siang bolong. Dalam demokrasi tidak pernah ada yang namanya rakyat sebagai penentu keinginan. Sejarah AS sendiri menunjukkan hal tersebut. Presiden Abraham Lincoln (1860-1865) mengatakan bahwa demokrasi adalah, "from the people, by the people, and for the people". Namun hanya sebelas tahun kemudian setelah Lincoln meninggal dunia, Presiden AS Rutherford B. Hayes pada tahun 1867 mengatakan bahwa kondisi di Amerika Serikat pada tahun itu adalah "From company,by company, and for company". Sejak awal kelahirannya, kedaulatan dalam demokrasi ada ditangan segelintir rakyat (bukan di tangan rakyat), yakni di tangan para pemilik modal. Hanya saja mereka menipu rakyat dengan menggembor-gemborkan seolah-olah kedaulatan ada di tangan rakyat. Jadi bila perubahan yang dikehendaki adalah daulatnya rakyat maka demokrasi tidak memberikan hal ini. Yang berdaulat dan berkuasa dalam demokrasi adalah para pemilik modal yang memang memiliki uang.


Jika yang dikehendaki itu adalah perubahan sistem kehidupan, demokrasi hanya memberikan perubahan orang/rezim. Sistem yang diterapkan sama: sekuler. Sekedar contoh, Indonesia dari awal kemerdekaan tetap menjalankan sekulerisme. Memang,terjadi perubahan pendekatan mulai dari sosialisme pada orde lama, kapitalisme pada orde baru, dan neoliberalisme pada era orde reformasi. Namun sistemnya tidak berubah: sekulerisme.


Sesungguhnya perubahan hakiki hanya bisa diraih jika menjadikan Islam sebagai asas perubahan. Kebangkitan yang menjadikan manusia sebagai manusia dan mendu


dukkan Allah SWT sebagai sesembahannya. Melalui kebangkitan hakiki akan teraih kemuliaan. Kebangkitan ini laksana perubahan dari kegelapan menuju cahaya. Satu-satunya jalan menuju cahaya itu adalah Islam. Caranya menaati aturan Allah Pencipta manusia, dan meninggalkan semua jalan hidup selain Islam, termasuk demokrasi ( QS Al-Baqarah: 257) dan (QS Al-An'am: 153).


Kebangkitan dan perubahan hakiki sejatinya mengubah penyembahan manusia terhadap sesama manusia menjadi penyembahan terhadap Allah SWT Pencipta manusia. Hal ini ditunjukkan oleh tegaknya syariah Islam sebagai wujud ketundukan manusia pada hukum-Nya. Keadaan ini akan melahirkan keamanan lahir dan batin dalam berbagai bidang. Berkaitan dengan hal ini Allah menegaskan :


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ



Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." ( QS An Nuur : 55)


Dalam ayat tersebut Allah SWT menjanjikan empat hal yang saling terkait. 

Pertama: kekuasaan/ k kekhilafahan (istikhlaf). 

Kedua: Peneguhan ajaran ajaran Islam (takminu addin). 

Ketiga: Keamanan (al-amnu) 

Keempat: ibadah dan tidak syirik. Ujung dari semua itu adalah " Mereka tidak takut kecuali kepada-Ku" ( Tafsir ath-Thabari, XIX/210).


Inilah kebangkitan hakiki. Adanya huruf waw (dan) dalam ayat itu menegaskan adanya keterkaitan yang kuat antara Khilafah, penerapan syariah Islam, keamanan serta kesejahteraan baik dalam materi, ruhiyah,akhlak maupun kemanusiaan (insaniyah). Dengan perkataan lain perubahan yang hakiki hanya ada dalam penerapan syariat lewat kekuasaan Khilafah.


Dari sini sangat jelas bahwa demokrasi bukanlah jalan perubahan dan kebangkitan hakiki. Jalan kebangkitan umat Islam hanyalah syariah, Islam dan Khilafah. 


Wallahu a'lam

Posting Komentar

0 Komentar