Benarkah Demokrasi Tak Dipercaya Lagi?


Oleh : Rosmiati

Demokrasi merupakan sistem yang saat ini dipakai oleh sebagian besar negeri di dunia. Terlahir dari kesepakatan gereja di zamannya, eksis di negeri-negeri kaum muslimin setelah hancurnya institusi khilafah Islamiyah di Turki Utsmanih pada tahun 1924 silam. Sejak saat itu, sistem yang digagas oleh John Lock dan kawan-kawannya ini, mewarnai kehidupan negeri-negeri bekas kekuasaan khilafah Islam di masa lalu.

Sehingga diakui, bahwa perjalanan sistem ini sudah cukup lama dalam mengatur tatanan kehidupan umat manusia. Namun, siapa sangka jika kinerjanya kini mulai diragukan oleh segenap pemujanya dahulu. Sebagaimana yang terjadi di Benua biru (Eropa). Enam sampai sepuluh penduduk Swedia dan Belanda senang dengan cara sistem ini bekerja. Namun, di sebagian besar wilayah spanyol dan Yunani cara kerja Demokrasi sudah tidak disukai.

Hal ini dikarenakan, demokrasi sudah tidak sejalan dengan cita-cita awalnya, yang berslogan  dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.  Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh salah satu lembaga Internasional dengan jangkauan penelitian yang tersebar ke 27 negara di dunia dengan jumlah 30.133 orang responden. Ditemukam ada sekitar 51 persen penduduk dunia tidak senang dengan cara kerja sistem demokrasi di negeri mereka.

Pemilu yang sejatinya adalah agenda krusial dalam sistem ini,  tidak lagi membawa banyak perubahan terhadap kehidupan nyata. Rezim berganti namun nasib rakyat masih jalan ditempat, tak ada perubahan yang signifikan bahkan nyaris beban hidup bertambah berat dari hari ke hari.

Sebanyak 60 persen penduduk dunia dari 27 negara tersebut mengutarakan hal ini. Begitu pula dengan jumlah politikus yang terjerat korupsi.  Diakui oleh sebanyak 54 persen masyarakat dunia bahwa sistem demokrasi banyak melahirkan sosok tikus-tikus berdasi.

Selain itu, terkait dengan ide kebebasan dan jaminan kemanan bagi pihak yang mengeluarkan pendapat juga menunjukan penurunannya. Padahal dalam sistem Demokrasi menjanjikan kebebasan dalam berekspresi dan itu dijamin oleh konstitusi. Namun, pada faktanya, banyak yang aktif menyampaikan aspirasi justru mendekam di balik jeruji besi.

Di Tanah air misalnya, fenomena diatas sering dijumpai. Singa-singa podium nyaris  nasibya berakhir di dalam sel tahanan. Mereka yang aktif mengkritik rezim pun tidak dibiarkan begitu saja. Hal ini lebih terasa pasca pelaksanaan pesta demokrasi baru-baru ini. Kendatipun telah banyak bukti  bahwa jalannya pemilu kali ini diwarnai dengan sejumlah kecurangan yang sistemis, terstruktur dan massif. Namun, tetap saja hal itu tidak direspon baik oleh yang berwajib. Alhasil meletus gerakan kedaulatan rakyat yang keseluruhannya berangkat dari ketidakadilan.

Demokrasi pun seakan menunjukan wajah asli sesungguhnya ketika ada korban berjatuhan.

Fenomena yang hari ini terjadi dalam lingkaran demokrasi seakan sesuai dengan ungkapan salah satu orang nomor satu di Amerika, John Adams. Ingatlah, demokrasi tidak akan bertahan lama. Ia akan segera terbuang, melemah dan membunuh dirinya sendiri. Demokrasi pasti akan bunuh diri. Demokrasi akan segera memburuk menjadi anarki.

Ungkapan John Adams hari ini mulai terbukti. Demokrasi yang katanya mengistimewakan kebebasan berubah menjadi kuburan nyata bagi para pejuang aspirasi. Disisi lain, kondisi kehidupan dari aspek kesejahteraan juga kian terkikis. Dimana rakyat cukup mengalami penderitaan mendalam selama sistem ini memimpin.

Demokrasi memang hanya akan menyisahkan luka apalagi ia diterapkan atas kaum muslimin. Sejatinya, sistem ini lahir diperuntukan bagi kalangan istana yang kala itu mereka bukanlah orang-orang Islam. Maka sudah jelas bahwa sistem ini juga lahir dari pemahaman diluar Islam.
Maka ketika ini dipakai untuk mengatur kehidupan kaum muslimin jelas akan banyak dijumpai ke-chaos-an sebab sejak awal sudah bertolak belakang. Demokrasi yang tegak diatas sistem sekuler mengesampingkan urusan pencipta dalam setiap derap langkah kehidupan.

Padahal secara naluriah setiap insan manusia akan selalu terikat dengan Tuhannya.  Dalam Islam tidak ada istilah pemisahan agama dari kehidupan. Hal ini berangkat dari sempurnanya aturan kehidupan dalam Islam itu sendiri. Seluruh aktivitas dalam kehidupan mulai dari bangun tidur hingga bangun negara dijumpai syariatnya dalam agama ini.

Untuk itu, penting bagi kita untuk kembali memahami keberadaan sebuah sistem ataupun ideologi yang diterapkan diatas kehidupan ini. Sebab dari sinilah nanti yang akan menentukan bagaimana wajah kehidupan kita ke depannya. Jika ideologi itu dibangun diatas ruh sekuler maka penampakan segalah kebijakannya pun akan berwatak sekuler pula.

Hanya sistem Ilahilah yang memahami manusia sebab Dialah yang menciptakannya. Dan sudah pasti akan memuliakan lagi mensejahterakan umat manusia. Wallahu a'lam. 

Posting Komentar

0 Komentar