Tanpa Khilafah, Penderitaan Ghaza Semakin Parah

Oleh: Fina Fadilah Siregar


Ramadhan tahun ini kembali dilewati umat muslim Ghaza dengan kesedihan yang mendalam, sama seperti ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan konflik antara Palestina dan Israel kembali memanas di jalur Ghaza. Sejak Sabtu (4/5), Israel kembali menggempur Ghaza dengan rudal. Dalam waktu seketika, Ghaza porak poranda dan 23 warga Ghaza meninggal dunia, termasuk diantaranya seorang perempuan yang sedang mengandung dan seorang bayi (Kumparan.com).


Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terus memerintahkan pasukan militernya untuk terus menggempur Ghaza secara intensif dan menyebut serangan ini sebagai serangan balasan ke Ghaza (Kumparan.com). Akibatnya, korban terus bertambah dan penderitaan umat muslim Ghaza semakin tak terkendali.


Penderitaan umat muslim Ghaza terus berlangsung di depan mata, tanpa ada umat muslim lainnya yang mampu menolong. Padahal, sejatinya umat muslim adalah umat yang satu. Apabila yang satu merasakan penderitaan, maka akan jadi penderitaan seluruh umat muslim. Namun, saat ini itu adalah hal yang mustahil karena para penguasa muslim sudah terbelenggu dengan ikatan nasionalisme dan perjanjian dengan para penjajah.


Berakhirnya penderitaan Muslim Ghaza hanyalah illusi di tengah ketiadaan seorang Khalifah sebagai pemimpin dan pelindung umat dari segala ancaman dan bahaya. Sehingga sudah menjadi tabiatnya jika umat pun tidak mendapatkan rasa aman.


Dengan berdirinya daulah Khilafah, maka penderitaan Muslim Ghaza dapat terselesaikan dengan persatuan umat melawan zionis Israel. Kelak, kita tak hanya mampu mengecam semata, namun mampu bertindak melawan dan menumpaskan kekezian yang menimpa muslim Ghaza. Oleh karenanya, sungguh suatu kedaruratan akan adanya sistem Khilafah yang mampu mewujudkan kemuliaan dan persatuan umat.

Posting Komentar

0 Komentar