Sistem Pendidikan Islam Mencetak Generasi Gemilang

Oleh: Yuli Ummu Raihan

(Member Akademi Menulis Kreatif)


Guruku tersayang

Guruku tercinta

Tanpamu apa jadinya aku

Ku bisa baca tulis, mengerti banyak hal

Guruku terimakasihku


Sepenggal lirik lagu di atas menggambarkan betapa besarnya jasa dan pengaruh seorang guru.

Guru adalah perantara ilmu  yang memberi pengetahuan dan contoh teladan. Guru memiliki tugas mulia menyiapkan dan mencetak generasi yang cemerlang untuk masa depan membangun peradaban yang tinggi.

Guru bukan hanya seorang pentransfer ilmu, tapi harus mampu memberi teladan yang baik karena akan ditiru oleh anak didiknya dalam segala hal.


Saat ini potret pendidikan kita sangat memperhatikan, kurikulum yang selalu berganti seiring pergantian rezim membuat arah pandang pendidikan tidak jelas, sehingga pelajar seolah menjadi kelinci percobaan, menimbulkan masalah dan kekacauan .


Pendidikan agama mulai dikurangi, sehingga wajar para anak didik menjadi kering ruh agamanya karena perhatian terbesar justru hanya untuk pengetahuan dunia. Maka wajar jika kita mendengar atau melihat ada guru yang mencabuli murid, murid melakukan seks bebas, aborsi, tawuran, narkoba, geng motor, bullying, dan  kerusakan lainnya. Sehingga gagal melahirkan generasi berkualitas dengan kepribadian yang bagus.

Saat ini output pendidikan hanya untuk mencetak para pekerja bukan sebagai penerus perjuangan.


Seolah kekurangan sumber daya manusia berupa guru maka wacana impor guru pun bergulir.


Puan Maharani Menko PMK mewacanakan akan mengimpor guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurutnya, saat ini Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman. Jika mereka mengalami kendala bahasa, maka akan di fasilitasi penerjemah serta perlengkapan alih bahasa (Tirto.id 12/5/2019).


Pendidikan kita yang sekular materialistik gagal menghasilkan generasi yang berkarakter mulia. Di antara penyebabnya karena paradigma pendidikan yang didasarkan pada ideologi sekuler, yang tujuannya sekadar membentuk manusia yang berpaham materialistik, hedonis, individual. Faktor lain karena rusaknya fungsi unsur pelaksana pendidikan yaitu keluarga, lembaga pendidikan, dan negara.


Keluarga sebagai sekolah pertama kini mulai terkikis fungsinya. Kesibukan orang tua dengan urusan dunia, kurang nya pemahaman agama, sehingga mengabaikan pendidikan dini terutama masa emas pertumbuhan anak-anak.

Banyak keluarga yang hanya memikirkan dan mencukupi kebutuhan jasmani semata sementara abai pada kebutuhan rohaninya. Keluarga seharusnya menjadi benteng utama ketika terjadi masalah pada generasi ini. Membekali anak sejak dini dengan akidah yg kokoh dan menanamkan nilai-nilai kebaikan.


Peran masyarakat juga sangat berpengaruh dalam membentuk karakter generasi. Peran masyarakat untuk beramar ma'ruf nahi mungkar, bukan masyarakat yang individual dan pragmatis. Tapi saat ini justru masyarakat menutup mata dengan kondisi ini, lihat saja jika ada tawuran pelajar masyarakat hanya menonton hanya sedikit yang berani menasehati, membubarkan, bahkan miris malah menonton dan memvidiokan serta menviralkan ke media sosial.

Masyarakat menganggap muda-mudi yang berpacaran hal yang biasa, tawuran hanya kenakalan remaja, bahkan adab tidak lagi terjaga.


Selanjutnya ada peran negara untuk menerapkan sistem yang terbaik bagi pendidikan  generasi. Menyediakan segala sarana dan fasilitas terbaik  serta sumber daya manusia sebagai pendidik (guru) dan menjamin pendidikan menjadi hak setiap anak di negeri ini, memudahkan bahkan menggratiskan bukan malah menjadikan lahan bisnis.


Dalam sistem pendidikan Islam kurikukum hanya satu dan kurikulum pendidikan harus berlandaskan akidah Islam, mata pelajaran serta metologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dalam pendidikan dari asas ini.


Tujuan dan pelaksanaan serta evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syariat Islam, yaitu membentuk kepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam seperti konsep ide, hukum-hukum Islam, bahasa Arab, sirah nabi, ilmu Qur'an ,tahfidz, tajwid, fiqh, hadist dll. Serta menguasai IPTEK agar generasi mampu bersaing dengan yang lain dan bermanfaat bagi pembangunan negeri di masa akan datang.

Menguasai ilmu keduniaan seperti kedokteran, biologi, fisika, kimia, otomotif, penerbangan, industri, sains, dan teknologi canggih lainnya, selama tidak bertentangan dengan konsep dan hukum Islam.


Durasi untuk ilmu agama lebih banyak dan menjadi prioritas, diberikan sejak tingkat dasar, hingga tingkat atas. Di tingkat peguruan tinggi baru ilmu tsaqofah boleh diajarkan secata utuh seperti halnya ilmu pengetahuan yang lain.


Ilmu seni dan keterampilan digolongkan sebagai ilmu pengetahuan seperti ilmu umum lainnya, boleh dipelajari tanpa terikat syarat atau batasan tertentu, serta bisa digolongkan menjadi suatu kebudayaan apabila tidak dipengaruhi  oleh pandangan hidup atau hadharah tertentu. Ini berbeda dengan fakta hari ini, di mana seni dan keterampilan justru banyak berkiblat dari barat, lebih bangga dan antusias pada seni asing yang jelas bertentangan dengan Islam.


Dalam pendidikan di sekolah tidak boleh bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan baik di kalangan murid maupun guru. Serta tidak boleh ada perbedaan karena ras, agama, kelompok, mahzab, atau yang lainnya.

Tidak seperti saat ini pendidikan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang berduit, sementata kelas menengah kebawah hanya mendapat pendidikan dasar seadanya, bahkan masih banyak yang putus sekolah bahkan tidak tersentuh pendidikan sama sekali karena banyak faktor.

Bagaimana mungkin negeri ini akan maju dan mampu bersaing jika pendidikan masih menjadi sesuatu yang sulit didapat.

Maka hanya sistem pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi gemilang, berdaya saing, serta mampu meraih peradaban yang tinggi seperti masa dahulu.

Dulu Islam dengan sistem pendidikannya telah mencetak nama-nama penting yang dikenal dunia serta menjadi rujukan untuk pendidikan dunia. Para ilmuwan terkenal seperti Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al jabar, Ibnu Firnas,  adalah salah satunya. Hal ini membuktikan  mereka tidak hanya unggul dalam ilmu dunia, tapi juga memiliki kepribadian Islam yang bagus sehingga layak disebut sebagai khoiru ummah.


Saatnya kita berubah, kembali merujuk sistem pendidikan Islam sebagai acuan, bukan terus mengekor pada barat , Islam sudah paling sempurna maka mengapa tidak terapkan sistem Islam saja secara kaffah? Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar