Sekulerisasi pendidikan melalui E-Sport

 Oleh : Silvia Meirani, SE
Kemajuan dunia globalisasi yang semakin menantang kehidupan para generasi muslim saat ini, tentunya harus dibarengi oleh adanya penguatan moral dan agama sebagai upaya mengantisipasi jika kemajuan dunia globalisasi tersebut dapat menjerumuskan generasi muslim ke arah kehidupan yang negatif. Teknologi dan informasi hanya salah satu indikator terhadap majunya suatu proses kehidupan generasi muslim.
Dengan adanya teknologi dan informasi tersebut kita dapat dengan mudah menerima informasi dari luar dengan cepat. Jika generasi muslim tidak memiliki iman yang kuat maka akan menerima semua budaya asing yang masuk tanpa ada penyaring yang baik yakni iman sehingga ia akan terjerumus pada kehidupan duniawi yang fana. Hal inilah yang akan mempengaruhi pada pembentukan aqliyah dan nafsiyah mereka nantinya.
Mengutip pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Mempora) Imam Nahrawi yang berpendapat e-sport harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. (CNN Indonesia,28/01/2019)
Menanggapi pernyataan Mempora Imam Nahrawi tersebut mengenai e-sport yang belakangan ini menjadi perbincangan dimasyarakat terkait dimasukkan e-sport kedalam pertandingan olahraga resmi sekelas Asian Games dan juga dimasukkannya e-sport kedalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah menurut pengamat pendidikan Universitas Multimedia Nusantara bapak Doni Koesoema (sumber : Tirto.id 29/01/2019). Doni berpendapat "game online sebagus apapun merupakan permainan yang menjauhkan anak-anak dari dunia nyata dan interaksi sosial. Karena game online hanya mengoptimalkan olah pikiran dan keterampilan tangan. e-sport lebih layak untuk menjadi kegiatan extrakurikuler saja disekolah. Yang diperlukan anak Indonesia adalah olahraga sungguhan." ujar Doni.
Dunia Online sekarang ini memang banyak memberikan peluang game-game seru untuk anak-anak muda. Bukan hanya sekedar hiburan seru yang didapat namun dari game itu sendiri menawarkan hadiah yang cukup menarik untuk para gamer.  Namun cukup disayangkan dengan fasilitas yang diberikan tersebut justru dapat melalaikan dan membuat anak-anak muda menjadi kecanduan akan dunia game online. Terlebih parah lagi akibat dari game tersebut justru membuat anak-anak terlena bahkan lupa akan adanya kewajiban-kewajiban yang lebih utama yakni mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT, dimana tercantum dalam firman Allah :
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Islam juga memerintahkan umatnya agar melaksanakan perintah Allah dengan segenap kemampuan(potensi) yang ia miliki. Berdasarkan Firman Allah
"maka bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku."(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 108)
Dan Islam memerintahkan umatnya untuk tidak melanggar larangan-larangan Allah SWT, seperti yang termakhtub dalam Firman Allah :
"Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan."(QS. An-Nisa' 4: Ayat 14)
Dizaman seperti sekarang ini dimana teknologi dan informasi berkembang sangat pesat. Sudah tidak bisa dipungkiri jika banyak orang yang mencari alternatif hiburan yang jauh lebih mudah didapatkan salah satunya adalah game online yang sekarang ini banyak diminati oleh para generasi muslim. Terlebih parah lagi justru ketika game online dimasukkan kedalam kurikulum pembelajaran. Hal inilah yang justru membuat masyarakat terutama para orang tua menjadi semakin khawatir dan resah terhadap syakhshyiah (kepribadian) anak-anak mereka untuk kedepannya.
Kurikulum yang ada saat ini saja belum bisa membentuk kepribadian anak menjadi positif dalam hal agamanya apalagi ketika game online bakalan dimasukkan kedalam kurikulum pembelajaran, apa tidak semakin kacau dunia pendidikan nantinya ?
Dalam Islam, pendidikan tidak boleh dipisahkan dari agama. Islam menolak adanya sekularisme dan menolak sekularisasi pendidikan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Dalam pandangan Islam, pendidikan sekuler bersifat berat sebelah, hanya menekankan pengembangan intelektual(akal), tetapi tidak memberikan perhatian yang semestinya pada pengembangan spiritual(agama) yang dalam hal ini berpengaruh positif terhadap pembentukan kepribadian generasi muslima.
Sistem pendidikan yang saat ini digunakan oleh Indonesia dan negara muslim didunia sudah pasti terasa berat sebelah karena tidak menempatkan manusia sebagai makhluk utuh yang punya unsur kepribadian Islam. Hasilnya hanya menciptakan orang-orang pandai, cerdas, terampil, dan cakap, tetapi spiritualitas-iman mereka terasa gersang dan yang lebih parah lagi terhadap pembentukan karakter kepribadian Islam yang semakin kacau.
Ketidakjelasan ini semakin terlihat ketika Peraturan Menteri mengenai Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Proses pendidikan diterbitkan. Di mana posisi pendidikan agama semakin terlihat jelas. Agama bukan diletakkan sebagai ruh dari semua mata pelajaran yang ada. Agama memiliki ruang tersendiri yang terpisah, sementara pelajaran lain berada di tempat yang lain lagi yang justru diutamakan. Keterpisahan ini semakin menegaskan ada pemikiran yang keliru yang melandasi struktur kurikulum dan proses penyelenggaraannya dalam sistem pendidikan nasional di negeri-negeri muslim. Kekeliruan ini berakibat fatal, yaitu krisis dan kegagalan pendidikan yang memunculkan karakter generasi muslim yang buruk seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini.
Kalau kenyataannya penjabaran sistem pendidikan nasional di negeri ini seperti jelas terbaca dalam Peraturan Menteri di atas yang akan menjadi acuan pembuatan kurikulum bagi seluruh sekolah di Indonesia, sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pengaruh pemikiran sekuler sangat berpengaruh besar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Kekhasan pemikiran sekuler terletak cara pandang terhadap agama. Agama diletakkan hanya sebagai urusan individu saja,  dalam hal ini pembinaan mental-spiritual, bukanlah tanggungjawab dari pemerintah.
Pada saatnya nanti, ketika proses sekularisasi sudah semakin berkembang dan merasuk sangat dalam ke dalam sendi masyarakat bukan mustahil pemisahan mutlak agama dari ranah pendidikan dan bahkan penolakan terhadap agama akan benar-benar terjadi di negeri ini. Dengan semakin menyempitnya peran agama seperti yang terjadi saat ini pun sesungguhnya sudah menunjukkan bahwa sekularisme sedang menancapkan taring-taringnya di negeri ini. Na'uzubillah.
Kemajuan dunia globalisasi yang semakin menantang kehidupan para generasi saat ini, tentunya harus dibarengi dengan adanya penguatan kepribadian Islam sebagai upaya mengantisipasi jika kemajuan dunia globalisasi tersebut dapat menjerumuskan generasi muslim ke arah kehidupan yang negatif. Peran serta orang tua dalam pemantau dan pengawasan secara langsung terhadap kepribadian anak dalam kehidupan sehari-hari mutlak dibutuhkan semata-mata demi menjaga pembentukkan akhlak anak. Dan tugas dari pemerintah yang baik adalah tetap mengutamakan pembentukan kepribadian Islam melalui pembinaan yang intensif, dengan tetap menomorsatukan agama dalam setiap kurikulum pembelajaran. Maka hanya dengan sistem pemerintah Islamlah kurikulum pembelajaran disekolah mampu menjadikan generasi muslim menjadi generasi khoiru ummah(generasi terbaik) yang memiliki pemikiran Al fikru al-mustanir(pemikiran yang cemerlang).
Wallahu 'allam bishawab

Posting Komentar

0 Komentar