Ramadhan, Momentum Sucikan Diri dari Racun Hati


Oleh : Lilik Yani


Hidayah adalah hak prerogatif Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintaiNya. Maka berbahagialah hati seorang hamba yang dikarunia hidayah, hingga bercahaya dan dimudahkan untuk menjalankan amal kebaikan. 


"Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik. Dan apabila ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak pula. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati."


// Hati seorang mukmin //


Hati seorang mukmin akan tumbuh subur  dalam kecintaan kepada Allah. Ia selalu tunduk taat kepada Allah atas semua aturanNya tanpa menunda atau membantah.


Hati seorang mukmin terdapat cahaya yang berkilau, tidak meninggalkan kegelapan. Karena selalu dalam bimbingan Allah.


"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahayaNya, siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (an-Nur : 35)


Hati seorang mukmin akan memancarkan cahaya bagaikan matahari. Hati seorang mukmin kian kokoh keimanan yang tertanam di dalamnya, dengan mendengarkan ayat-ayat Allah. Bertambah keyakinannya dengan tafakur, dan semakin bertambah hidayahnya dengan mengambil hikmah atas setiap peristiwa.


// Hati Yang Sakit atau Rusak //


Hati yang di dalamnya terdapat virus atau racun yang bisa mematikan.


"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." (TQS al-Baqarah : 10).


Hati yang tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Hati yang membantah jika diseru ke jalan Allah. Hati yang keras dan menolak kebenaran.


// Macam-macam racun hati dan solusi mengatasinya //


Adapun yang termasuk racun hati adalah kelebihan makanan, banyak bicara, banyak tidur, mengumbar pandangan.


Makanan adalah bahan bakar syahwat. Perut yang penuh terisi makanan akan mengakibatkan tubuh malas menjalankan ibadah.


Maka dari itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita tentang fikih makanan.

" Anak Adam tidak mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang bisa menegakkan punggungnya. Walaupun demikian, ia harus makan lebih banyak dari itu, maka sepertiga bagian perut adalah untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas." (HR Ibnu Majah).


Maka dari itu dengan berpuasa Ramadhan kita bisa mengendalikan nafsu untuk mengatur konsumsi makanan. Walau siang berpuasa, tidak berarti malamnya bisa balas dendam dengan makan sebanyak-banyaknya.


Kita harus mengurangi porsi makanan, sebagaimana firman Allah swt : 

"Makanlah diantara rezeki yang baik, yang telah Kami berikan kepadamu. Dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaanKu. Maka sesungguhnya binasalah dia. (TQS Thoha : 81)


Dengan mengendalikan nafsu makan, maka kita memiliki energi untuk beribadah dengan maksimal. Apalagi bulan Ramadhan ini Allah menyiapkan banyak pahala untuk hambaNya yang taat.


// Kurangi Obrolan Yang Tidak Manfaat //


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau ia diam."


Setiap kata yang keluar dari lisan kita, tidak terlepas dari dua hal yaitu mendatangkan pahala atau menimpakan hukuman.


"Tidak ada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (TQS Qaf : 18).


Banyak bicara dapat mendorong pada banyak kesalahan. Maka dengan puasa Ramadhan, kita puasakan mulut kita dari bicara yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tanpa tujuan, apalagi sampai bergunjing, ghibah atau adu domba. Hingga menambah dosa.


Jadi mulutpun harus berpuasa, mengendalikan diri dari banyak bicara karena merupakan racun hati. 


// Jangan Terlalu Banyak Tidur //


Tidur adalah nikmat Allah atas hamba-hambaNya. Tapi jika berlebihan bisa merusak hati.


Walau tidurnya orang berpuasa bernilai ibadah. Tetapi kalau kita banyak tidur, kapan kita bisa menjalankan ibadah Ramadhan seperti tadarus al-Qur'an, tholabul ilmi untuk menambah tsaqofah Islam, menyiapkan makanan buat takjil atau keluarga yang berpuasa, dan aktivitas lainnya yang berbuah banyak pahala.


Untuk meraih surga perlu upaya dan perjuangan yang berat. Maka pada saat jiwa mengajak tidur atau malas beribadah, pejamkan kedua mata dan bayangkan surga, katakan dalam hati. "Wahai jiwa,relakah kamu bila kehilangan surga? Akankah kamu tidur nyenyak, sementara teman-teman kita sedang berjuang menuju surga?


Tidakkah kalian tahu, bahwa temanmu sedang tilawah al-Qur'an atau sholat malam sekarang?


Miliki teman yang ikhlas dan memiliki tekad tinggi. Dengan begitu kita bisa saling berlomba dalam beribadah. Berlomba siapa yang lebih dulu mengkhatamkan al-Qur'an, berlomba menjalankan qiyamul lail, dengan cara satu sama lain saling membangunkan.


...." Dan untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba." ( TQS Muthafiffin : 26).


// Tundukkan Pandangan Mata //


"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.. (TQS an-Nuur : 30)


"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya...(TQS an-Nuur : 31).


Memandang wanita yang tidak menutup aurat, bisa memecahkan ketetapan hati dan memporak porandakan bangunannya, sebab pandangan itu adalah racun baginya. 


Dengan kita berpuasa maka akan mengendalikan mata dari pandangan-pandangan yang berakibat dosa. Termasuk harus menundukkan pandangan dari perhiasan dunia yang melalaikan dan melenakan.


"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu pada  apa yang telah Kami berikan kepada golongan mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (TQS Thaha : 131 ).


Jadi kita harus puasakan mata dari melihat hal-hal yang berbau maksiat. Sibukkan diri dengan amal ibadah Ramadhan dengan penuh ketaatan kepada Allah. Dan sibukkan mata dengan membaca al-Qur'an. Niscaya kedua mata kita akan terjaga. 


Baiklah saudaraku, mari kita upayakan sungguh-sungguh untuk menjalankan ibadah Ramadhan, sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah. 


Dengan terus menjaga keimanan kita, semoga racun hati yang akan masuk ke tubuh kita bisa dihadang, sehingga yang tersisa adalah hati bersih dan hati yang sehat yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Hati yang semangat jika diajak beribadah. Dan hati yang bisa jadi sarana masuknya hidayah Allah. 


Wallahu a'lam bisshawab. 



Ngawi, 17 Mei 2019



#RamadhanBulanBerkah

#RamadhanMomentumTaat

#RamadhanMomentumSucikanHati









Posting Komentar

0 Komentar