Ramadhan dan Persatuan Umat

Oleh: St. Sahara

(Member WCWH Konawe)

Antusiasme masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan suci Ramadhan setiap tahunnya sangatlah meriah. Sebab, Ramadhan dijadikan salah satu momen sakral yang wajib ditunaikan. Banyak tradisi di masyarakat dalam menyambutnya. Masyarakat Boyolali, misalnya, yang melakukan mandi suci di tempat-tempat yang dianggap keramat. Menurut mereka, dengan ritual tersebut mereka akan kembali suci dalam menghadapi bulan Ramadhan.

Padahal, Ramadhan merupakan bulan penyucian bagi umat itu sendiri. Dengan melakukan ibadah puasa, mengaji, sholat dan ibadah-ibadah maghdah lainnya secara ikhlas, tercapailah tujuan dari bulan suci Ramadhan. Menjadikan puasa sebagai tameng dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT tanpa harus menambahkan ritual apapun di luar syariat Islam. Sebab, justru ritual itulah yang dapat mencemari hikmah Ramadhan.

Selain melaksanakan ibadah maghdah, masyarakat haruslah sadar bahwa tameng yang lebih kuat dari itu ialah persatuan umat. Ya, dengannya umat akan memiliki satu pemahaman akidah yang kuat dalam melawan musuh yang nyata dan tak disadari, melawan kezaliman zaman, dan kekerasan. 

Mengingat, banyak sekali kasus yang beredar di masyarakat hari ini. Sebut saja, kasus ratusan petugas penyelenggara pemilu yang meninggal. Data terbaru yang diperoleh,  tercatat 583 orang meninggal dunia, baik dari pihak KPU, Bawaslu, maupul personel polri. Adapun rincian dari KPU (4/5), jumlah petugas kelompok penyelenggaraan pemungutan suara (KPPS) yang meninggal sebanyak 440 orang. Sementara petugas yang sakit 3.788 orang (Wartakota.com).

Salah seorang dokter syaraf, Ani Hasibuan, mengadukan masalah banyaknya petugas KKPS yang meninggal dunia saat menjalankan tugas, kepada wakil ketua DPR Fahri Hamzah dari kompleks parlemen senayan. Dokter Ani meminta agar dilakukan otopsi pada jenazah dikarenakan heran akan adanya hal ini. Sementara itu, penindaklanjutan dari kasus ini sangatlah pasif. Miris, hanya karena urusan dunia, banyak jiwa yang harus dikorbankan. Padahal, dalam Islam, harga 1 nyawa sama dengan seluruh nyawa mahluk yang ada di dunia.

Belum lagi, kasus saudara kita di Palestina. Di sana mereka mempertatuhkan nyawa demi agama dan negara. Saat ini, tepatnya di awal Ramadhan, tengah terjadi eskalasi kekerasan terbaru yang mengakibatkan 30 orang warga Palestina , yaitu 3  perempuan, 2 di antaranya hamil, 2 bayi dan seorang anak-anak terbunuh. Ashraf Al-Qudra sebagai juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina menambahkan 300 orang lainnya terluka diakibatkan serangan udara Israel yang menghantam jalur Gaza. Telah jelas hal ini meninggalkan nuansa tak mengenakkan bagi warga sipil (Liputan6.com). Namun apa daya, kejadian di sana, hanya dijadikan isu Gaza semata. 

Di Uighur, tak jauh beda kasusnya. Dilansir dari Republika.co.id, dalam wawancara pribadi melalui e-mail dengan salah satu mahasiswa di sana, Salahuddin mengatakan, “Tak ada lagi Ramadhan bagi kami.” Bagaimana tidak, di bulan Ramadhan, muslim Uighur dilarang menjalankan ibadah puasa. Tak hanya regulasi pelanggaran, tapi di sekolah-sekolah juga disediakan makan siang yang harus di makan. “Kalau ada yang melanggar, konsekuensinya di penjara, sekalipun masih kanak kanak. Untuk menebusnya, para orang tua harus mengeluarkan uang yang sangat banyak," ujar Salahuddin. 

Selama ini mereka meng-qodho puasa mereka di bulan yang lain. Hingga tidak terlalu terlihat mencolok. Mereka juga meng-qodho sholat mereka di hari-hari tertentu. Segala makar yang dilakukan terhadap muslim Uighur semata untuk menjauhkan mereka dari Islam. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Mengapa hal ini terjadi, dan mengapa hanya kepada kaum muslim saja? Ini dikarenakan tidak adanya tameng yang melindungi umat. Saat ini, umat masih asyik dalam permainan kapitalis yang hanya menguntungkan orang-orang tertentu. Tidak adanya ukhuwah islamiyah di tengah umat, dimana umat masih asyik dengan dunia mereka masing-masing. Padahal, seharusnya umat Islam bagaikan satu tubuh, yang sama merasakan sakit. Tidak adanya pemimpin yang adil dan sistem yang benar, umat bagaikan boneka yang digerakkan para musuh yang kuat. 

Solusi untuk masalah ini ialah dengan sistem Khilafah, dimana dalam sistem ini, semua masalah yang terjadi dalam masyarakat di seluruh penjuru dunia akan ada jalan keluar dan pemecahannya yang benar-benar adil dalam penyelesaiannya. Dalam sistem Islam, ada jawaban dari pertanyaan setiap manusia yang memiliki masalah. Yang pasti sesuai dengan syariat, dimana Al-quran dan hadits sebagai sumbernya. Tidak akan ada lagi darah umat yang bisa ditumpahkan dengan mudah. Tidak adanya Khilafah membuat umat Islam kehilangan institusi yang dapat melindungi mereka dan agama mereka. Sebab, Khilafah bagi umat Islam adalah perisai. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang pemimpin adalah perisai, di belakangnya orang-orang berperang dan kepadanya orang-orang mencari perlindungan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sejarah perang di bulan Ramadhan yang paling besar adalah perang Badar, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H (13 Maret 624). Pasukan muslim berjumlah 313 melawan Quraisy Mekkah yaitu 1.000 orang. Awal mula penyebab terjadinya perang ini ialah dikarenakan umat muslim telah sangat menderita karena kaum Quraisy yang menjarah harta dan rumah kaum muslim. Dengan dipimpin oleh Rasulullah SAW sendiri dan atas pertolongan Allah SWT, akhirnya pasukan umat Islam menang melawan kaum kafir, dengan jumlah pasukan dengan perbandingan yang sedikit. 

Ini membuktikan, bahwa kekuatan Islam akan menang karena berada di jalan yang benar yaitu di jalan Allah SWT. Ya, kemenangan begitu dekat karena adanya pemimpin yang menjadi tameng (perisai) umat. Wallahu a’lam bissawab.

Posting Komentar

0 Komentar