Ramadhan dan Derita Gaza

Oleh : Ratna Lestari


Momen Ramadhan identik dengan suka cita, kebahagiaan, bulan penuh ampunan, dilipatgandakannya pahala, jajanan bermacam-macam, juga menu berbuka puasa yang variatif. Tapi apakah itu hakikat ramadhan? Tidak. Ramadhan sejatinya adalah bagaimana menggembleng diri kita untuk bertaqwa kepada Allah. Itu adalah momen dimana kita harusnya mencari sebanyak-banyaknya pahala dengan mengkaji Islam. Mengenal Islam dengan lebih dalam dari sebelumnya, dan yang lebih penting lagi, tentang bagaimana kita bukan hanya memikirkan ramadhan kita saja.


Bila di Indonesia kita begitu tenang dan nyaman menjalani ibadah, masih bisa memikirkan santapan berbuka nanti ataupun esok, masih sempat scroll layar gawai untuk sekedar iseng melihat baju baru. Tapi tidak dengan saudara kita di Gaza, yang jangankan bisa menikmati Ramadhan dengan tenang. Ramadhan belum dimulai saja sudah dijatuhi bom yang menewaskan puluhan orang. Apa yang bisa kita lakukan sekarang ini? Tentunya sebagai orang beriman kita sedih melihatnya. Tidak sanggup merasakan bagaimana nyawa begitu mudah melayang disana. Padahal Rasulullah SAW bersabda : "Hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim."


Dimanakah pemimpin muslim? Mengapa mereka diam? Tidak tahukah disana saudara sesama muslim tengah tertindas? Pasti mereka tau. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ummat muslim sudah terpecah belah. Sekat-sekat nasionalisme lah yang menyebabkan hal ini terus saja terjadi, ummat muslim menjadi lemah meski jumlah mereka besar. Ketiadaan pemimpin negara yakni khalifah juga makin mengoyak raga kaum muslim. Bukankah kaum muslim ibarat satu tubuh? Bila satu bagian tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya juga. Maka di Gaza dan negeri-negeri muslim yang tengah tertindas pun demikian. Kita tidak selayaknya diam di tengah kenyamanan kita. Karena sesungguhnya penderitaan mereka adalah penderitaan kita juga. Masih ada yaumul akhir dimana Allah akan menanyakan apa yang telah kita lakukan untuk menyelamatkan mereka.


Maka di bulan ramadhan ini semestinya membuat ummat Islam makin bersemangat untuk mewujudkan kembali kemuliaan ummat. Kemuliaan Islam. Sudah seharusnya kita semakin menguatkan pemahaman kita bahwa Islam itu agama yang mulia. Tapi tidak akan ada kemuliaan di dalamnya bila kita hanya diam menyaksikan saudara-saudara kita terbunuh. Yang harus kita lakukan adalah terus mengkaji Islam, mendakwahkannya agar ummat semakin sadar akan pentingnya ummat Islam berada dalam satu kepemimpinan dan dalam naungan sebuah negara yang didalamnya hanya menjalankan syariat Islam kaffah saja  sebagai pemutus segala kebijakan, bukan dengan sistem buatan manusia.


Wallahu'alam bisshowab....


Posting Komentar

0 Komentar