Ramadan Tanpa Ibadah di Xinjiang

Oleh Lulu Nugroho*



Ramadan ini, muslim Xinjiang tak bisa puasa. Menurut organisasi Human Rights Watch dan para aktivis, pembatasan itu terutama diberlakukan di Provinsi Xinjiang yang mayoritas penduduknya Muslim. Otoritas Cina seringkali tinggal di rumah keluarga Muslim untuk menekan kegiatan keagamaan mereka.


Tidak hanya dilarang berpuasa, mereka pun dilarang berjenggot dan salat lima waktu. Muslim Xinjiang dipaksa minum minuman beralkohol dan menikah dengan China Han yang non muslim. Bahkan beberapa rumah tak lagi menyimpan Alquran dan sajadah.


Otiritas China bertindak sewenang-wenang dan kejam terhadap muslim Xinjiang. Para pejabat lokal secara teratur mengunjungi keluarga-keluarga dengan mendadak untuk memeriksa mereka agar tidak berpuasa atau salat. Kamera pengawas di mana-mana. Membatasi gerak kaum muslim menyembah Allah.


Umat tanpa penjagaan dan pelindung, kondisinya mengenaskan. Tidak hanya Xinjiang. Palestina pun sama. Awal Ramadan, Israel membombardir tanpa ampun. Mesir satu-satunya negeri muslim terdekat tak bersikap layaknya saudara seakidah. Diam membisu tidak membantu. Bahkan menutup jalan untuk masuknya bantuan ke Palestina.


Mesir bukan satu-satunya. Di seluruh dunia, negeri-negeri muslim tidak satupun yang mengirim pasukan. Membebaskan negeri-negeri yang terjajah. Tidak hanya Xinjiang, tapi juga Palestina, Rohingya, dan yang lainnya. Membebaskan dari belenggu penjajahan dan tindakan zalim.


Persatuan umat mutlak diperlukan untuk kebangkitan. Tanpa ini, selamanya umat akan menjadi bulan-bulanan penjajah. Lemah, tanpa daya. Hak-hak kemanusiaan hilang. Karena hanya kaum muslim itu sendiri yang mampu menolong saudaranya di negeri represif. Bukan Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-bangsa (DK-PBB). 


Ummatan waahidatan sebagaimana diseru Allah pasti mampu menolong sesama muslim. Umat yang bersatu akan kuat. Sebab seluruh potensi baiknya disatukan. Apalagi dengan adanya perisai, pelindung umat yaitu Khilafah ala minhajin nubuwwah. Ia menjadi junnah, umat bersatu di bawah komandonya. Menghalau seluruh kezaliman yang bertahta di muka bumi.


Tidak hanya menyelamatkan muslim Xinjiang, tapi juga Palestina, Suriah, Yaman, Rohingya, dan seluruh negeri yang masih menerapkan aturan kufur. Keberadaan Khilafah sangat mendesak. Tanpanya, harga diri hingga nyawa umat menjadi tidak berarti. 


Bahwa Nabi Muhammad -shallaLlâhu ’alayh wa sallam- bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)



* Muslimah Penulis dari Cirebon

Posting Komentar

0 Komentar