Proyek OBOR, Kolonialisme China Kuasai Indonesia

Oleh : Dewi Ratnasari 

(Muslimah Pengkaji Islam Kaffah )

Akhirnya 23 kesepakatan kerjasama antara pemerintah China dan Indonesia telah ditandatangani di berbagai sektor usaha. Hal ini sekaligus menandai dimulainya proyek One Belt One Road (OBOR) di Indonesia. Penandatanganan kesepakatan kerja sama itu disaksikan langsung oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam acara Forum Bisnis Indonesia-China, Jumat (26/4). (https://koran.bisnis.com). Momen itu juga bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kedua One Belt One Road yang resmi dibuka oleh Presiden Cina Xi Jinping Jumat pagi waktu setempat.

Proyek OBOR atau yang juga dikenal Belt and Initiative (BRI) merupakan kebijakan luar negeri yang diinisiasi oleh China untuk membuka keran konektivitas dagang antarnegara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra maritim. OBOR (BRI) menjadi mimpi besar China untuk menjadi digdaya. Gagasan OBOR menjadi proyek besar China untuk masuk ke negara-negara berkembang, kaya sumber daya alam, dan yang mudah bertekuk lutut. Konsep OBOR juga menjadi master plan pembangunan jalur perdagangan Asia ke Afrika dan Eropa. 

Menteri Koordinator Bidang Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proyek kerja sama Indonesia dan China, One Belt One Road (OBOR) atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor, siap dilaksanakan. Sebanyak 23 nota kesepahaman (memorandum of understandingnderstanding/Mou) antara pebisnis Indonesia dan Tiongkok ditandatangani setelah pembukaan KTT Belt and Forum II di Beijing, Tiongkok, Jumat (26/4/2019).

Dari 23 proyek yang diteken, nilai investasi dari 14 MoU mencapai US$14,2 miliar atau setara Rp201,4 triliun. Luhut menegaskan nilai tersebut bukanlah utang yang harus ditanggung pemerintah. “Kami [proyek OBOR] hampir tidak ada urusan pada debt atau utang nasional,” katanya, Sabtu (27/4/2019). (https://koran.bisnis.com). Namun benarkah demikian?

Yang harus kita cermati adalah, akankah Indonesia sebagai salah satu sasaran proyek OBOR benar -benar diuntungkan atau malah banyak buntungnya? Alih - alih ingin mendapatkan kemudahan dalam bidang ekonomi, justru menjadikan Indonesia sebagai jajahan baru China untuk menghegemoni politik dan ekonominya.

Bagi China dengan tersalurnya dana cadangan devisa yang melimpah ia bisa meraup minimal tiga keuntungan besar yaitu dana yang dikeluarkannya tetap produktif, terdapat lapangan kerja baru untuk pekerjanya yang melimpah dan memperkuat pengaruh China dalam geopolitik global. Sedangkan denga negara yang melakukan kerjasama, China telah membuat banyak jebakan untuk mencengkram negara tersebut salah satunya soal pinjaman.

Namun pinjaman yang diberikan China tentunya tidak gratis, karena disyaratkan semua alat produksi dari China bahkan pekerjanya juga berasal dari China, sedangkan apabila proyek gagal bayar maka harus diserahkan ke China. Tentu ini sangat merugikan Indonesia, salah satunya karena pengangguran akan semakin lebar akibat lapangan kerja dibanjiri tenaga China.


Melihat hal tersebut sudah jelas OBOR hanyalah proyek China untuk menghegemoni politik dan ekonomi di Indonesia. maka haruslah kita tolak keberadaannya. Kebiasaan mengundang investor asing masuk ke negeri ini hanya akan menyusahkan rakyat. Indonesia sebagai negara yang dikaruniai Allah SWT sumber daya alam yang melimpah akan habis jika asing yang mengelola. Jebakan hutang yang terus dimasifkan pihak luar juga menjadi ancama besar bagi Indonesia. Maka Pengelolaan negara dengan syariatNya adalah solusi fundamental yang harus segera dilakukan. Karena hanya dengan penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafahlah Indonesia akan berdaulat dan mampu mengelola sumber daya sebagaimana mestinya sehingga melahirkan rahmatan lil'alamin. 

Wallahu'alam bishowab

Posting Komentar

0 Komentar