Pesta yang Berakhir Duka

Oleh : Ana Ummu Alif 

(Aktifis Muslimah Peduli Umat Wilayah Batang Kuis)

Rabu, 17 april 2019 lalu Indonesia menggelar pesta demokrasi pilpres (pemilihan presiden). Pemilu serentak tahun 2019 ini menjadi perhatian banyak pihak. Kabar mengejutkan dari BAWASLU, RI mengeluarkan pernyataan bahwa 7000 lebih pelanggaran selama hajatan politik 5 tahunan ini. Hal tersebut dibenarkan pula oleh tim BPN dari paslon 02 yang beberapa waktu lalu melaporkan dugaan kecurangan sebanyak 1200 lebih kasus khusus untuk pilpres 2019. Bahkan pemilu tahun 2019 dianggap pemilu paling kacau dan penuh kecurangan. Bukan hanya itu, pemilu kali ini juga banyak menelan korban jiwa.

Diberitakan oleh MERDEKA. COM,sekjen komisi pemilihan umum (KPU) RI, Arif Rahman menjelaskan korban gugur dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota KPPS pertanggal 4 Mei 2019 pukul,16:00 WIB tercatat jumlah korban meninggal mencapai 440 jiwa. Sakit 3,788 orang jadi total 4, 228 kata Arif lewat siaran pers yang diterima Sabtu (4/05).

Alasan sementara mereka meninggal dunia karena kelelahan akibat mengawal proses pemilu. Banyak pihak yang berpendapat bahwa kematian anggota KPPS ini tidak wajar. Bahkan alasan kelelahan dipertanyakan oleh ahli. MEDICAL EMERGENCY RESCUE KOMITE atau MER-C dalam medis kelelahan tidak dapat dijadikan sebab musabab seseorang mengalami kematian. Kata dr. Yogi Prabow-SpOt salah seorang presidium mer-c dalam jumpa pers dikantor sekretariat mer-c, keramat lontar. Jakarta pusat - jum’at 3 Mei 2019.

Dari berbagai fakta yang ada memilih seorang pemimpin dalam sistem demokrasi hari ini sangatlah rumit dan sulit, bukan hanya curang dan memakan korban jiwa bahkan biaya untuk pesta demokrasi lima tahunan ini menelan biaya sebesar 24 triliun. Jika kita pikir secara logika bagaimana mungkin kita mendapatkan pemimpin yang baik, adil dan amanah jika dalam proses pemilihan saja sudah banyak terjadi kecurangan. Dan menelan biaya yang besar.

Inilah segelintir masalah dari banyak masalah lain yang tidak terselesaikan, masikah kita berharap perubahan dengan kondisi yang rumit saat ini. Pernakah kita berfikir untuk mencari solusi perubahan dari sistem yang lain. Sistem yang lain ini adalah sistem islam, karena islam bukanlah sekedar agama ritual belaka tapi juga sebagai sistem kehidupan atau ideologi.

Dalam sistem islam pergantian pemimpin tidaklah serumit dalam sistem demokrasi. Pemimpin dalam sistem islam didasarkan pada ketaqwaan kepada Allah SWT. Pemimpin dalam sistem islam disebut khalifah dan negaranya dinamakan daulah khilafah sebagai contoh saat rasulullah saw wafat kepemimpinan kaum muslim beralih kepada Abu bakar ra. Setelah abu bakar dibaiat kaum muslimin disaqifah bani sa’idah. Dengan adanya baiat dari kaum muslimin ini maka sah lah abu bakar sebagai Khalifa atau pemimpin kaum muslim.

Dan setelah abu bakar wafat lalu kekhilafahan dilanjutkan oleh umar, usman, dan ali bin abi thalib mereka biasa disebut khulafaur rasyidin. Setelah ali bin abi thalib wafat lalu kekhilafahan dilanjutkan dengan membaiat para calon Khalifah yang memang mereka layak menjadi pemimpin bagi kaum muslim. Kekhilafahan ini biasa dikenal dengan istilah bani umayyah-bani abbasiyyah dan yang terakhir bani utsmaniyyah di Turki ustmani sampai akhirnya kekhilafahan runtuh pada tanggal 3 Maret 1924. Begitu mudahnya mengangkat pemimpin dalam sistem islam, tidak bertele tele, tidak rumit, dan tidak memerlukan biaya yang sangat besar.

 Untuk itu marilah kita ganti sistem demokrasi dengan sistem islam yang berasal dari wahyu allah SWT. Karena pemimpin yang adil dan amanah hanya akan kita dapat jika ia memiliki ketaqwaan yang tinggi dan hanya takut kepada Allah serta menjalankan seluruh syari’at Allah dengan sepenuhnya. Wallahu’alam bisawab.

    

Posting Komentar

0 Komentar