People Power Bukan Perubahan Hakiki

Oleh: Tuti Febrimawati (Ibu Rumah Tangga & Pembelajar Islam Kaffah)

Carut marut yang terjadi pada pilpres 2019 menimbulkan wacana people power muncul ke permukaan. Wacana ini datang dari politisi Patrai Amanat Nasional Amin Rais dan juga Eggy Sudjana Calon Legislatif Partai Amanat Nasional yang berujung pada pemeriksaan atas dirinya karena dugaan makar dan pelanggaran Undang-undang informasi dan transaksi elektronik.

Istilah people power mempunyai makna kekuatan rakyat, penggulingan kekuasaan presiden secara paksa melalui demonstrasi rakyat. Ini dilakukan dengan tujuan reformasi atau Revolusi baik untuk mengubah sebagian sistem yang ada maupun mengubah seluruh sistem yang ada.

Menurut pandangan Islam yang dimaksud perubahan adalah perubahan hakiki. Yaitu merubah sistem kufur menjadi sistem Islam. Namun ketika ingin merubah, apakah ini bisa diwujudkan dengan people power?. Tentu tidak bisa, karena people power berpotensi menimbulkan kekacauan yang luar biasa dan juga bisa menimbulkan perpecahan umat.

Cara people power bertentangan dengan metode dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam membangun pemerintahan Islam Rasulullah saw melakukan thalab an-nusrah yaitu mencari pertolongan (sekaligus kekuatan dukungan) kepada para tokoh masyarakat untuk menolong dakwah Islam. Dalam hal ini Rasulullah saw. pernah mendatangi Bani Tsaqif di Thaif, Bani Hanifah dan kabilah-kabilah lainnya.

Dalam konteks sekarang Thalab an-Nusrah bisa dilakukan kepada Kepala Negara, Polisi, Militer dan siapa saja yang punya pengaruh di masyarakat.

Sesungguhnya untuk membangun pemerintahan Islam yaitu dengan mempersiapkan umat untuk menyadari dan menerima Islam dalam seluruh aspek kehidupan. karena kekuatan negara dan pemerintahan dalam Islam terletak pada umat. Inah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Wallahu'alam bi Showab

Posting Komentar

0 Komentar