Palestina Berduka, Dunia Masih Diam

Oleh: Nurdalena, S. Pd

(Pendidik)

Ramadhan bulan mulia, bulan yang siang dan malamnya diberkahi. Bulan suci yang didalamnya, ada satu malam yang lebih baik dari seribu malam. Seluruh muslim dunia bersuka ria menyambutnya. Berlomba- lomba mereguk manisnya berkah dan ampunan. 

Namun, di tengah semarak menyambut ramadhan, dibelahan bumi yang lain, Gaza palestina memulai ramadhan dengan dentuman bom, rumah-rumah yang runtuh, dan tangis kehilngan anggota keluarga. Lagi- lagi zionis israel menodai kesucian ramadhan. Tepat dua hari menjelang ramadhan, serangan udara dilancarkan kekota para nabi itu. Rezim penjajah zionis israel melancarkan setidaknya 150 serangan udara. kekerasan berlanjut hingga senin, menyebabkan setidaknya 12 warga Paletina terbunuh. Diantaranya, salah seorang wanita hamil. Falastine Abu Arar (37) dan bayi perempuannya berumur 14 bulan, gugur dalam serangan brutal israel, (Hidayatullah.com, 06/05/2019).

Gencatan senjata sementara dilaporkan telah disepakati pada Senin 6 Mei 2019, tetapi ancaman saling serang lebih lanjut dari kedua belah pihak, telah menimbulkan kekhawatiran perang baru selama bulan suci, demikian seperti dikutip dari Asia Times, Selasa (7/5/2019).

Selama akhir pekan, Israel melakukan serangan udara dengan menargetkan setidaknya 300 sasaran di Jalur Gaza. Mereka mengklaim sasaran itu sebagai kantung gerilyawan dan intelijen Hamas (Liputan6.com, 08/04/2019). 

Serangan Israel ke Palestina bukan pertama kalinya, sejak Israel berhasil merebut negeri para Nabi itu, rakyat Palestina hidup dalam kubangan airmata. Entah sudah berapa banyak korban berguguran. Duka itu dimulai, sejak Negara Israel berdiri pada 14 mei 1948, konflik Palestina-Israel terus terjadi hingga kini. Pada perang enam hari Arab-Israel 1967, Negara Bintangf Daud berhasil merebut sinai dan jalur gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Suriah), Tepi Barat dan Yerusalem (Yordania), (Merdeka.com, 12/10/2015).

Sejak itu terjadi pencaplokan wilayah oleh Israel terhadap Palestina. Hingga kini warga jalur Gaza , Palestina, ibarat hidup dalam penjara karena diblokade oleh Israel. 

Derita Palestina Akibat Sekat- Sekat Nasionalisme

Menggantung asa pada demokrasi adalah bunuh diri. Apa yang dialami Palestina adalah bukti gagalnya demokrasi memerdekaan manusia. Demokrasi telah menciptakan sekat nasionalisme ditengah- tengah kaum muslimin. Membuat negeri- negeri muslim lainnya tak mampu berbuat banyak. Bantuannya hanya sebatas kemanusiaan belaka dan kecaman tak berarti. Sekat nasionalisme membuat negeri muslim tak bergigi, karena Palestina sudah diluar garis teritorial Negara mereka. Sekat nasionalisme membatasi campur tangan sebuah negara atas negara yang lain. 

Kemanakah Palestina harus berharap?Palestina tidak bisa berharap pada PBB. Karena PBB lah yang telah memberikan persetujuan dan pengakuan terhadab Israrel, pada 29 November 1947. Dan faktanya PBB tidak pernah memberikan sanksi kepada Israel, meski kejahatan Isarel pada Palestina terpampang nyata. Meski lalu Pada 2012, Majelis Umum PBB menyetujui pengakuan de facto dari negara Palestina yang berdaulat (CNNIndonesia, 01/10/2015). Namun pada kenyataannya Palestina tidak pernah benar- benar merdeka. Pengakuan PBB atas palestina hanyalah kemerdekaan semu. PBB terus mendorong agar Palestina mau berbagi Negara dengan penjajah zionis israel. Solusi dua negara terus ddiengungkan sebagi satu- satunya solusi bagi konlik dua negara tersebut.

Padahal, akar masalah Palestina hakikatnya adalah keberadaan Israel yang telah menyerobot, merampok dan menduduki Tanah Palestina dengan mengusir penduduk dan pemilik aslinya. Dengan kata lain akar masalah Palestina adalah agresi, pendudukan dan penjajahan Israel atas Palestina dan penduduknya. Di sinilah para ulama sering menyebut qâdhiyah Filistin adalah qâdhiyah wujûd, bukan qâdhiyah hudûd. Maksudnya, akar masalah Palestina adalah keberadaan Israel, bukan masalah tapal batas antara Israel dan negara-negara tetangga seperti Suriah, Libanon, Yordania, termasuk Palestina.

Lalu bisakah berhara pada Negara Adidaya Amerika ?, faktanya Israel adalah anak mas Amerika. Amerikalah yang selalu maju didepan bagi kepentingan Israel. Bahkan AS adalah salah satu Negara yang menolak berkibarnya bendera Palestina di PBB. Bahkan Presiden AS, Donald Trump, dalam pidatonya digedung putih. Presiden Trump Mengatakan bahwa sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebagaimana dilansir dalam BBCNews ( 07/17).

Haruskah berharap pada OKI, Organisasi Kerjasama Internasional (OKI), faktanya hingga hari ini OKI bagai organisasi tak bergigi yang hanya bisa mengecam tanpa solusi berarti.

HAM dan Demokrasi hanyalah alat barat yang berstandar ganda, yang hanya berpihak apabila sang empunya yang mendapatkan masalah.namun HAM dan Demokrasi akan diam seribu bahasa jika menyangkut kehormatan kaum muslimin.

Masalah Palestina sejatinya adalah masalah umat Islam. Karena iman harusnya tak dibatasi batas teritorial. Jika satu tubuh umat sakit, maka seluruh tubuh lain akan merasakan sakit. Tanah Palestina adalah tanah Kharajiyyah milik kaum muslimin. Yang ditebus dengan aliran darah para syuhuda.

Karena itu sikap seharusnya terhadap Israel yang telah merampas Tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan, yakni perangi dan usir! Demikian sebagaimana firman-Nya:

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin”, (TQS at-Taubah [9]: 14).

Allah SWT juga berfirman, "Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian” (TQS al-Baqarah: 191).

Berdasarkan ayat di atas, Israel harus diperangi dan diusir dari Tanah Palestina. Dengan kata lain jihad fi sabilillah terhadap Israel wajib dilancarkan. Namun, rasa-rasanya sangat kecil kemungkinannya bahkan mustahil jika berharab pada rezim- rezim dinegeri muslim hari ini. Pasalnya sekat nasionalisme masih mengikat mereka. Tidak satu pun rezim di negeri-negeri Islam saat ini yang menjadikan akidah dan syariah Islam sebagai asas dan standar dalam bernegara, termasuk dalam politik luar negeri mereka dengan mengadopsi jihad fi sabilillah. Padahal jihadlah cara satu-satunya untuk mengusir siapapun yang telah merampas tanah milik kaum Muslim, termasuk Israel yang telah merampas Tanah Palestina

Maka, jika ingin kebebasan palestina secara nyata, dibutuhkan persatuan umat Islam. Umat Islam harus mencampakkan racun Nasionalisme dari dalam tubuh mereka. umat Islam harus bersungguh= sungguh berjuang mewujudkan kepemimpinan yang mampu mengerahkan tentara demi membebaskan Palestina dan negeri-negeri laiinya dari cengraman para penjajah kapitalis yang rakus dan haus kekuasaan. Wallahu a’lam bishowab.

Posting Komentar

0 Komentar