Meraih Takwa di Bulan Ramadhan

Oleh : Zahra Sofia

Dear dari kecil kita tahu ya kalau bulan ramadhan itu bulan meraih ketaatan, baik itu dari orang tua, guru sekolah, pemahaman ini juga kita dapatkan dari guru ngaji.


Namun terkadang kita mengertikannya hanya untuk menumbuhkan ketaatan individu saja, lupa akan salah satu peraturan dari Allah bahwa Allah swt-pun mengatur setiap manusia agar taat serta patuh  kepada hukum syara. 

Ketaatan dalam apa saja dear ?

Menyeluruh dong ya, baik itu di mulai dari ketaatan dan kesalihan individu juga masyarakat, 

Karena hakikat taqwa adalah mewujudkan ketaatan kepada seluruh aturan islam baik terkait individu, keluarga,masyarakat maupun Negara.


Apa yang disebut dengan takwa?

"orang orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara yang telah Allah haramkan atas diri mereka dan melaksanakan perkara apa saja yang Allah titahkan atas diri mereka" (Ath-thabari, jami' al-bayan li ta'wil al-Qur'an, 1/232-233). 


Baginda Rasulullah saw . Pernah berdsabda kepada muadz bin jabal ra. Saat beliau mengutus dia ke yaman : 

اتق الله حيثما كنت

Bertakwalah engkau kepada allah dimanapun engkau berada (HR at-tirmidzi). 

Dengan demikian, jika memang takwa adalah buah dari puasa Ramadhan yang dilakukan oleh setiap mukmin,  idealnya usai Ramadhan, setiap mukmin senantiasa berupaya menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Tentu dengan mengamalkan  seluruh syariahnya baik terkait aqidah dan ubudiah, makanan ,minuman ,pakaian, dan akhlak, muamalah ( ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dll ) , maupun uqubat (sangsi hukum) seperri hudud, jinayat, ta'zir maupun mukhalafat. 


Dear perlu kita pahami ya, bahwa tak hanya puasa yang bisa mengantarkan pelakunya meraih level taat dan takwa. Didalam al Qur'an sendiri tak hanya puasa yang di akhiri dengan kalimat  " la'allakum tattaqun" (agar kalian bertakwa). 

Di dalam beberapa ayat lain Allah SWT juga berfirman, antara lain : 


ولكم في القصاص حياة يا اولي الالبا ب لعلكم تتقون

Artinya : Bagi kalian, dalam hukum qishash itu ada kehidupan, wahay orang-orang yang memiliki akal, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqoarah 2: 179). 


وان هذ ا صرا طي مستقيما فا تبعوه ولا تتبعواالسبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصلكم وصاكم لعلكم 

تتقون

Artinya : sungguh, ini jalanku yang lurus (islam). Karena itu ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan- jalan lain hingga kalian bercerai- berai dari jalannya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa (TQS al- an'am 6:153).


Naaah berkaitan dengan ayat-ayat di atas jelas bahwa tak cukup dengan puasa orang bisa meraih derajat takwa. Ibadah (yakni totalitsa penghambaan kita kepada Allah SWT), pelaksanaan hukum qhisash serta keberadaan dan keistiqomahan kita di jalan islam dalam melaksanakan seluruh syariat islam, semua inilah yang bisa mngantarkan kita pada puncak ketakwaan yang sesungguhnya.


Begitu juga dengan pemimpin,

Pemimpin yang bertakwa adalah pemimpin yang amanah. Pemimpin yang tidak mengkhianati Allah SWT dan Rasul-nya.

Karena pemimpin yang bertakwa dia  tidak akan menyalahi al-Qur'an dan as-Sunnah. Mereka tidak akan mengkriminalisasi islam dan kaum Muslim.


Merekapun tidak akan menghalang-halangi , apalagi memusuhi orang- orang yang berjuang menerapkan syariah dan oenegakan Khilafah yang merupakan taj' al- furudh (mahkota kewajiban) dalam islam.

Bahkan mereka akan menerapkan syariah islam secara kaffaj sebagai wujud ketaatan total diri mereka kepada Allah SWT. 


Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

Posting Komentar

0 Komentar