Menjadikan Ramadhan sebagai Junnah

Oleh : Ummu Salman

Bulan Ramadan kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan yang penuh ampunan dan saat pahala dilipatgandakan, sekaligus bulan perjuangan. Jika menapaki shiroh Rasulullah, kita akan menemukan perwujudan bulan ramadan sebagai bulan perjuangan. Hal yang sama juga terjadi pada generasi berikutnya setelah generasi Rasulullah Saw dan para sahabat. 

Beberapa peristiwa jihad melawan kaum kafir dan penaklukan sekaligus pembebasan wilayah-wilayah justru terjadi pada bulan ramadan. Sukses perang Badar, penaklukan kota Makkah, perang Qadisiyah mengalahkan Persia, menghancurkan Romawi di Tabuk, Sirakusa, maupun Manzikert, penaklukan Andalusia, kekalahan Tartar Mongol oleh Sultan Qurtuz, kemenangan Shalahudin atas pasukan salib Jerusalem hingga sukses Mesir mengalahkan Israel terjadi di bulan Ramadan (Eramuslim.com, 9/5/2019).

Yang menarik bahwa ternyata kemerdekaan Indonesia pun terjadi pada bulan Ramadan. Dan di bulan ramadan ini pula, direncanakan pengumuman hasil pemilu pada bulan April lalu sebagaimana pada jurnalislam.com (4/5/2019). 

Rencana pengumuman hasil Pilpres dan Pileg pada 22 Mei yang bertepatan dengan 17 Ramadan menjadi tolok ukur. Apakah KPU bekerja jujur dan adil atau masuk dalam pola curang yang tersistematisasi. Bila nekad dan merekayasa kemenangan mengikuti “order” maka KPU berarti telah “disorder” dan siap melawan perlawanan umat dan rakyat.

Bulan Ramadan Sebagai Junnah

Allah berfirman dalam surah Al baqarah ayat 183 yang berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". Ayat tersebut menjelaskan bahwa muara dari puasa adalah ketakwaan. Maka target akhir dari puasa adalah bertambahnya ketakwaan kepada Allah. Ketakwaan adalah manifestasi dari ketundukan seorang hamba kepada perintah Allah dan keengganan untuk terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allah.

Bulan ramadan adalah bulan menempa diri sekaligus sebagai junnah (perisai) bagi seorang individu, agar mampu menolak untuk melakukan segala hal yang diharamkan oleh Allah. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, "Puasa itu bukanlah semata-mata menahan dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang mencelamu atau berbuat jahil kepadamu maka katakanlah, 'aku sedang puasa, aku sedang puasa." (HR Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim dengan sanad sahih). Hadis tersebut menunjukkan bahwa puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan jima, tetapi juga meninggalkan kemaksiatan, baik dari matanya, lisannya, tangannya, kakinya ataupun hatinya. Mereka mengendalikan seluruh aktivitasnya agar sesuai dengan aturan Allah Swt.

Hal penting yang harus disadari, bahwa puasa tidak hanya bertujuan mewujudkan keshalehan individu, tetapi lebih dari itu adalah juga untuk mewujudkan keshalehan umat. Puasa adalah taat syariah. Jika kaum muslim memahami hakikat puasa dan menjalankannya dengan penuh keikhlasan, kemudian hasil puasa itu diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat dan negara, insya Allah akan lahir masyarakat baru yang taat syariah.

Sebagai perbandingan sekaligus contoh adalah kehidupan para sahabat Rasulullah Saw sebagai generasi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia. Sungguh atmosfer keimanan ditengah-tengah mereka pada bulan-bulan selain bukan Ramadan senantiasa terjaga dan terpelihara sebagaimana pada bulan Ramadan. Ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya dalam aktivitas sosial, pemerintahan, dan kenegaraan, politik luar negeri dan peperangan selama bulan Ramadhan tidaklah surut. 

Rasulullah Saw dan para sahabatnya atau generasi kaum muslim terdahulu tidak mengendurkan jihad (perang) fi sabilillah apalagi istirahat selama bulan Ramadan dan mengfokuskan diri mereka dengan amal-amal ibadah di dalam mesjid, sebagaimana yang biasa kita lakukan saat ini. Artinya, aktivitas kemasyarakatan dan kenegaraan pada masa Rasulullah Saw dan pada masa Kekhilafahan Islam berlangsung sebagaimana adanya, baik pada bulan Ramadan maupun selain bulan Ramadan. Sungguh atmosfer keimanan itu berlangsung sepanjang tahun, seakan-akan sepanjang tahun adalah bulan Ramadan.

Maka jika umat menyadari arti pentingnya bulan Ramadan, umat pun akan mewujudkan ketaatan itu dalam kehidupan bernegara. Salah satunya adalah mengangkat pemimpin/imam yang menerapkan syariah dan taat kepada syariah. Karena sesungguhnya pemimpin yang taat kepada syariah adalah junnah bagi rakyatnya. Senantiasa menjaga keshalihan dan ketaatan umat yang dipimpinnya, tidak membiarkan umat terzholimi dan berupaya semaksimal mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan umat. Dia mencintai umat dan umatpun mencintainya.

Walhasil, harusnya bulan Ramadan ini menjadi momentum untuk melakukan perubahan secara mendasar terhadap seluruh aspek kehidupan, baik individu, maupun masyarakat dan negara. Kecurangan-kecurangan pemilu yang terjadi pada hari-hari kemarin harus dihentikan dan ditaubati oleh para pelakunya. Jika kita benar-benar menghargai jasa para pahlawan, yang telah berjuang untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bangsa kafir penjajah, maka tidak ada jalan lain selain kembali pada aturan Allah. Karena hanya dengan kembali kepada aturan Allah, cita-cita kemerdekaan yaitu negeri yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 akan terwujud. Wallahu 'alam bishowab. 

Posting Komentar

0 Komentar