Menjadi Generasi Smart Harapan Umat

Oleh: Dian Puspita Sari*



Sobat muda pasti udah pada denger kan kasus bullying yang terjadi sama Audrey beberapa waktu yang lalu? Itu lho kasus anak SMP di Pontianak, Kaltim yang dibully sama belasan anak SMA gegara soal urusan asmara. Kasus ini sempet heboh dan menggemparkan medsos. Walaupun setelah diusut lebih jauh, ada beberapa fakta yang ternyata nggak sesuai dengan pemberitaan di awal-awal. (detik.com, 11/4/2019)


Sebenernya ya, kisah bully-membully ini nggak cuma terjadi sama Audrey aja kan. Kalo kita mau cek en ricek ke belakang sih kasus model ginian udah bejubel. Ada yang terekspos ke media, ada juga yang nggak. Secara gitu kan, kita sekarang hidup di zaman yang kata orang sih “zaman edan”. Tiap detiknya ada aja kejadian di luar akal dan nurani manusia yang terjadi. Kriminalitas udah jadi makanan hari-hari. Di segala tempat dan di segala kalangan.


Kemudian, banyak orang yang bertanya-tanya, kok gitu sih? Kok bisa ya? Kerusakan demi kerusakan terus terjadi dan lebih parah lagi, itu semua seolah nggak ada solusi. Mau nyalahin apa dan siapa coba? Nyalahin zaman? Zaman itu udah ‘sunnatullah’nya kali berubah-ubah dari generasi ke generasi. Emang kita mau apa, hidup di zaman yang jadul dan kolot gitu-gitu aja. Nggak kan?! Semua itu mau gak mau emang harus berkembang sebagaimana perkembangan sains dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).


Terus, kalo gitu kita nyalahin orang-orang yang udah bikin sains dan IPTEK ini berkembang aja? Ya nggak boleh juga. Masa iya kita main nyalah-nyalahin mereka. Sementara kita juga nikmatin hasil dari bikinan mereka.  Nggak boleh ya dan emang nggak bisa gitu juga. Lah, jadi sekarang mesti gimana dong?


Intinya kita itu harus menjadi remaja yang cerdas. Menjadi generasi yang ‘smart’. So, yang pertama kali harus kita lakukan adalah membuka pikiran dan hati kita, lalu mencermati dan menela’ah kira-kira nih akar permasalahan masyarakat saat ini tuh apa? Kalo udah ketemu, akar masalahnya apa dan dimana, nah sebagai generasi smart kita harus kudu bin wajib nemuin apa sih solusinya. Solusi yang pas, yang jooss, yang mantul (mantap betul) buat menuntaskan segala persoalan yang ada.


Setelah memikirkan dengan seksama, eh ternyata kita nemu nih sebab-musabab maraknya kasus pembullyan dan kriminalitas saat ini. Ternyata, karena adanya disfungsi peran orangtua, lingkungan masyarakat dan juga negara. Oke, kita rinci satu-satu ya.


Diakui atau nggak, sekarang itu banyak banget orangtua yang nggak paham dan nggak fokus buat mendidik anak-anak mereka di rumah. Kebanyakan orangtua cuma berperan sebagai pabrik anak dan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) buat anak. Peran ayah dan ibu pun banyak yang tertukar dan sengaja ditukar pada zaman sekarang. Paham feminis yang sepaket dengan program pemberdayaan perempuan adalah salah satu biang keroknya. Akibatnya, remaja saat ini tumbuh tanpa didikan dan minus akhlak serta moralnya.


Ditambah budaya hedonisme yang kini mengakar kuat di lingkungan masyarakat. Segala sesuatu diukur dari banyaknya materi. Nggak ada lagi ruang buat agama. Padahal tanpa agama, manusia akan hidup semaunya dan lambat laun pasti bakal terjadi kerusakan. Seperti halnya yang terjadi di masa sekarang ini.


Sebenernya, hal ini kaitannya erat banget sama disfungsi peran negara yang disebutkan di atas tadi. Aturan sekulerisme yang dipake di negara kita saat ini mengharuskan aturan hidup itu dipisahin dengan aturan agama. Agama nggak boleh ngatur kehidupan dunia. Kehidupan dunia nggak ada hubungannya sama agama. Nah loh?!


Kurikulum pendidikan yang dipake juga nggak mampu membangun karakter dan kepribadian yang baik. Sebab, alih-alih menanamkan hal itu, negara lewat kurikulum pendidikannya justru makin menancapkan paham materalistis kepada generasi. Hasilnya, para generasi cuma sibuk mengejar nilai akademik. Menjadi kaum intelektual yang mendewakan materi duniawi. Nah, gambarannya bisa kita saksikan pada film Sexy Killers yang lagi viral saat ini.


Film dokumenter yang tayang di sela-sela panasnya politik di Indonesia ini seolah ngebuka borok kapitalisme yang bercokol di negeri ini, khususnya yang berkaitan dengan tambang. Gimana bisnis tambang menjadi salah satu sasaran kaum kapitalis buat mengeruknya. Ngorbanin rakyat buat kepentingan segelintir orang. Ini udah cukup membuktikan secara nyata, bahwasanya kapitalisme itu udah kuat banget mencengkram negeri ini.


Coba aja misalnya aturan agama yang dipake buat ngatur kehidupan, pasti nggak bakal kayak gitu. Kenapa? Sebab, pada dasarnya Islam punya seperangkat aturan yang jelas dan rinci dalam mengelola sumber daya alam apapun itu. Ada pengaturan hak milik individu, masyarakat (umum) juga negara.


Buat sumber daya alam yang ukurannya besar dan bisa dimanfaatin buat kemaslahatan masyarakat, maka nggak boleh dieksplorasi secara pribadi. Itu tuh harusnya menjadi milik umum yang dikelola oleh negara. Seluruh hasilnya sepenuhnya dikembalikan buat rakyat. Wuihh, ajib nggak tuh aturannya?! Makanya, dari sanalah nanti negara bisa ngasih kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan, keamanan masyarakat secara gratis dan berkualitas.


Nggak kayak sekarang, yang kaya raya, yang elit politik, yang konglomerat, orangnya itu-itu aja. Ya gimana nggak? Uangnya cuma berputar di sekitar mereka-mereka aja. Sementara masyarakat yang lain hampir mati tercekik dalam lingkaran kapitalisme. Biaya hidup serba mahal dan nggak adanya jaminan dari negara, mengharuskan mereka habis-habisan bekerja. Alhasil, anak-anak mereka kehilangan peran orangtua dan menjadi bengis dengan tersistematis.


Maka, cukup! Cukup sudah seluruh rentetan persoalan negeri ini. Kita harus keluar. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Kita harus memperbaiki keadaan. Kenapa harus kita? Karena kita adalah putra putri bangsa ini. Kita adalah pemuda-pemudi pemegang tongkat estafet kepemimpinan negeri. Kita adalah para remaja, sang pelopor perubahan di mana pun ia berada.


Seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.” Kemudian Musthafa Kamil, pemikir dari Mesir berkomentar: “Pemuda yang bodoh, beku (tidak punya ruh jihad) untuk memajukan bangsa, matinya itu lebih baik daripada hidupnya”.


So, ayo menjadi generasi cerdas dengan mengambil Islam sebagai jalan perubahan. Pertama-tama, pedekate dulu dengan Islam. Bangun keyakinan kalo Islam adalah agama sempurna yang bisa dipake buat ngatur kehidupan dunia wal akhirat. Nggak ada yang terbaik selain Islam. Terus, kaji Islam sebagai ideologi, bukan ilmu semata. Mengikat diri dengan syari’at-Nya juga terlibat dalam dakwah dan perjuangan Islam.


Itulah generasi smart yang menjadi harapan umat. Selalu bersiap mengukir karya buat sebuah perubahan masa depan. Juga bergegas di garda terdepan memperjuangkan syari’ah dan khilafah. Kamu siap?



*) Founder Komunitas Remaja Shalihah (KRS) Kab. Banjar, Warga Pekauman Ulu Martapura

Posting Komentar

0 Komentar