Membumikan 2 Junnah di Bulan Penuh Berkah

Oleh Yanti Nurhayati, S.IP. (Aktivis Dakwah Islam Kaffah)

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dinanti oleh kaum muslim, karena bulan ini memiliki berbagai keutamaan. Selain bulan yang penuh berkah dan ampunan, bulan ramadhan merupakan perisai (junnah) bagi seorang muslim. 

Allah subhabahu wa ta'ala berfirman ; "Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya" (HR. Ahmad, al-Nasai dan Ibnu Majah)

Puasa sebagai junnah menjadi perisai bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara untuk membentuk dan meningkatkan nilai ketakwaan agar terhindar dari kedurhakaan yang bisa mencederai ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Meraih ketakwaan bukan hanya dengan ibadah sholat saja, tapi dengan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan menjalankan apa saja yang diwajibkan.

Selain kita fokus dengan ibadah  shaum. Ramadhan juga merupakan bulan da'wah. Da'wah untuk menegakan amal ma'ruf nahi mungkar dikeluarga, lingkungan sekitar dan da'wah untuk negeri ini...Da'wah untuk mengajak pada perubahan yang meyeluruh untuk perubahan yang hakiki, meninggalkan segala bentuk riba, khamr, perzinaan, khalwat, prostitusi dan berbagai macam kemaksiatan yang ada dinegeri ini. Tentunya bukan hanya individu saja yang harus meninggalkan namun bagi masyarakat dan negara. Bahkan negara harus bisa memberikan sanksi kepada para pelakunya.

Negara harus bisa membangun suasana takwa bagi warga negaranya, sehingga nilai ketakwaan hakiki pada  individu, masyarakat maupun negara akan terwujud.

Ketakwaan akan termanifestasi dalam sebuah masyarakat dan negara yang menjalankan seluruh hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala. Dan pemimpin negara harus bisa menjadi pelindung bagi rakyatnya. Pemimpin umat inilah yang akan memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, dan Al Imam (pemimpin umat) yang seperti ini dipredikati juga sebagai Junnah (perisai) oleh Rosululloh saw, yang bersabda dalam hadist : " Sesungguhnya al imam (Khalifah) itu laksana perisai, dimana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan kepada Allah 'azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khakifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa".( HR. Al Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Abu Dawud, Ahmad).

Hanya dengan kepemimpinan seorang Khalifah suasana ketakwaan dalam umat akan terwujud.

Dua buah Junnah yaitu Puasa dan Kempemimpinan Islam saling berkaitan satu dengan lainnya. Puasa menjadi perisai dari kemasksiatan agar terbentuk ketakwaan. Demikian pula Khilafah, merupakan manifestasi ketakwaan secara kolektif untuk memberlakukan hukum-hukum Allah. Kedua junnah ini harus bisa terwujud apalagi pada akhir zaman saat ini banyak tersebar fitnah terhadap umat Islam diseluruh dunia tak terkecuali di Indonesia, maka selayaknya puasa mendorong ditingkatkannya kadar ketakwaan. Dan hanya dengan spirit itu, perjuangan menuju tegaknya Khilafah Islam bisa segera diwujudkan dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala. Kokohkan jiwa kita sebagai umat muslim terbaik yang berkesungguhan untuk ikut berjuang mewujudkannya, jangan mau kita sebagi umat muslim yang hanya menjadi penonton saja. Wallohualam bishowab.

Posting Komentar

0 Komentar