Ibu Pertiwi Menangis


Oleh Lulu Nugroho*



Beberapa media asing seperti Al Jazeera, Channel News Asia (CNA), France 24 dari Perancis, Time, Ruptly, On Demand News (ODN) dari Inggris, The Today Show dari Australia, dan lainnya memberitakan aksi Kedaulatan Rakyat 21 dan 22 Mei 2019 yang baru lalu. (Suara.co, 28/5/2019). Tangisan ibu pertiwi terdengar hingga negara tetangga.


Aksi damai yang diikuti ribuan peserta dari berbagai kota ini berakhir ricuh. Hingga menimbulkan banyak korban meninggal, luka parah dan ratusan orang hilang. Korban laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Juga kerusakan berbagai sarana umum.


Inilah yang terjadi, ketika umat sulit menemukan keadilan dan kesejahteraan, maka mereka membutuhkan saluran yang tepat untuk menyampaikan kegundahannya. Maka mereka akan terpaksa turun ke jalan. Dan hal seperti ini rawan ditunggangi perusuh. Sementara aspirasi mereka perlu disampaikan. Sebab pada siapa lagi mereka menggantungkan harapan jika tidak pada penguasa. 


Aksi kedaulatan rakyat yang semula direncanakan akan berjalan damai sebagaimana aksi dengan pengerahan massa yang banyak seperti aksi terdahulu dalam rangkaian 212. Bahkan para ulama pun berada di garda terdepan. Ternyata tidak mampu mengatasi suasana yang berubah menjadi mengerikan. Saling serang antara pihak keamanan dengan umat menjadi tidak terbendung.


Pada masanya, saat Islam berjaya beberapa abad lalu, ada sosok pemimpin yang mau mendengar keluh kesah umat. Umat tidak sulit menemui penguasa. Tidak perlu aksi dan tak perlu mengorbankan banyak nyawa. Islam memberi jalan dengan mudah yaitu melalui majelis umat. Segala persoalan yang muncul di tengah umat, bahkan mengkritisi para wali, muawwin dan khalifah, dengan mudah disampaikan melalui jalur ini.


Maka berharap muncul sosok sekaliber Umar bin Khaththab yang mau mendengar kritikan seorang perempuan tua. Beliau rela menghentikan perjalanannya dan berdiri tegak berjam-jam di jalan sampai perempuan itu selesai menyampaikan gugatannya pada penguasa. Bahkan Umar pun rela merubah kebijakannya jika umat menyampaikan keberatan mereka.


Umar bin Khaththab menghentikan pasukan berkudanya, menyimak nasihat perempuan tua tersebut. Hal ini menimbulkan keheranan para pengawalnya, hingga setelah beberapa waktu, ada seorang yang bertanya kepada Umar, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan wanita tua renta ini?"


Umar dengan segala kerendahan hatinya menjawab, "Demi Allah, kalau sekiranya beliau menahanku  dari permulaan siang hingga akhir siang, aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa perempuan renta ini?" 


Khaulah binti Tsa'labah bin Ashram, demikian nama wanita itu. Ia berasal dari kalangan perempuan Anshar. Doa dan gugatannya didengar oleh Allah hingga menjadi sebab turunnya surah Mujadalah ayat 1-4. Kisah ini tidak hanya menunjukkan kemuliaan Khaulah, melainkan juga keindahan adab Umar, sang khalifah, pemimpin dan pelindung umat. Wallahu 'alam



*Muslimah Penulis dari Cirebon

Posting Komentar

0 Komentar