GAZA SAMBUT RAMADHAN, PENUH DUKA NESTAPA

Oleh: Meliana Chasanah


Bulan Ramadhan adalah bulan suci di mana banyak terdapat keberkahan di dalamnya. Setiap umat muslim pasti ingin menyambutnya dengan suka cita dan tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. Namun, terbayangkah oleh kita, saudara-saudara Muslim di Palestina menyambut Ramadhan 1440 H kali ini penuh duka lara.

Dilansir dari Cnnindonesia.com (5/5) – “Gaza kembali memanas. Pasukan Israel dan gerilyawan Palestina terus melancarkan serangan dalam tiga hari belakangan. Beberapa orang tewas dan beberapa lainnya terluka. Kekacauan ini dimulai ketika penembak jitu dari gerilyawan Palestina menembak pasukan Israel dan menyebabkannya terluka. Israel membalasnya dengan serangan udara.  Keduanya pun kemudian saling meluncurkan roket. Eskalasi ini terjadi jelang Ramadan dan Hari Kemerdekaan Israel.”

Menurut sumber yang lain, Kumparan.com (5/5) –“Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan tiga dari enam korban tewas itu adalah bayi Palestina berusia 14 bulan dan ibunya yang sedang mengandung. "Pesawat Israel menembakkan rudal di dekat rumah dan pecahan peluru memasuki rumah, menghantam bayi kami yang malang," kata kerabat ibu dari bayi itu, Ibtessam Abu Arar, dilansir Reuters.”

Bahkan serangan kali ini lebih brutal dari sebelum-sebelumnya tanpa memperhatikan siapa yang diserang, hingga menewaskan wanita dan bayi yang tak berdosa. Di dalam Islam perang memiliki aturan dan ketentuan, di antaranya yaitu tidak boleh merusak fasilitas umum, harus di tanah lapang, tidak boleh menyerang wanita, anak-anak, dan juga lansia. 

Peristiwa ini terjadi secara bertubi-tubi entah berapa ratus atau bahkan ribuan kali. Semenjak pendudukan Israel secara resmi tahun 1948, mereka terus-menerus meluncurkan serangan kepada penduduk pribumi (penduduk asli Palestina) dengan dalih ingin menguasai tanah tersebut. Hingga saat ini pemukiman penduduk Palestina semakin sempit karena desakan dari penduduk Israel yang bengis tanpa hati nurani menghabisi dan menguasai tanah itu seorang diri. 


Problematika Muslim Palestina

Bisa kita bayangkan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita sebagai warga negara Indonesia masih bisa menjalankannya dengan penuh khidmat, tanpa harus takut ada yang mengganggu, merasa aman tenteram tanpa kekhawatiran yang menerka. Di Palestina, umat Muslim selalu di landa dengan gas air mata, serangan rudal, dan tak tanggung-tanggung bom nuklir dihempaskan oleh tentara Israel tersebut. Di bulan Ramadhan, mereka masih bisa merasakan santap sahur di dunia, bisa saja mereka merasakan berbuka puasa di akhirat. 

Para mujahidin di sana begitu tangguh, tak heran jika tentara Israel menyerangnya ketika Ramadhan datang. Alasannya adalah ingin menggoyahkan keimanan kaum muslimin agar mereka menyerahkan tanah Palestina kepada Israel.

Ada begitu banyak problem yang dirasakan umat Muslim Palestina terutama yang berada di jalur Gaza semenjak penjajahan kaum Yahudi Laknatullah tersebut. Penindasan tanpa henti, penganiayaan terhadap wanita dan anak-anak, ada pula yang disekap oleh tentara Israel hingga mengalami trauma mendalam, entah penyiksaan apa yang mereka lakukan hingga menyebabkan hal demikian.  Tak henti-hentinya pembunuhan terus terjadi setiap harinya. Islam merupakan satu-satunya agama yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, begitu pula darah, nyawa manusia, dan harta yang diperbolehkan untuk dikelola. Dan Allah SWT melaknat siapa saja bagi pembunuh nyawa orang tak berdosa: 

Allah SWT berfirman:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ  ۛ  كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِۢغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَ نَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَ نَّمَاۤ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ وَلَـقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِا لْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

"Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi."(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 32).

Sudah begitu jelas di dalam ayat tersebut bahwa Bani Israil merupakan kaum yang telah ditetapkan hukumannya selama mereka belum bertaubat ke jalan yang benar yaitu Dienul Islam, satu-satunya agama penyempurna setelah adanya agama lain. Mereka akan terus membuat kerusakan di muka bumi sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu menguasai bumi Syam. 


Derita Yang Harus Ditanggung

Kini, penduduk pribumi bagaikan pendatang di tanah sendiri. Rumah mereka hancur tak tersisa. Mencari persediaan makanan pun sangat sulit didapatkan. Andai kita yang masih diberi kebebasan menikmati bulan Ramadhan bisa merasakan pedihnya berperang seperti saudara Muslim kita di Palestina, sanggupkah kita? 

Mereka telah lama menjerit meminta pertolongan, bukan meminta makanan, bukan pakaian, bukan pula tempat tinggal yang mereka butuhkan. Melainkan hanya pertolongan dari saudara Musimnya, agar mereka segera di bebaskan.

Kehidupan mereka amatlah pedih, terus-menerus teraniaya. Namun aqidah mereka yang kuat menjadi tameng. Karena mereka sadar bahwa tanah Syam adalah warisan para Nabi dan Rasul yang harus dijaga walaupun darah dan nyawa mereka yang harus menjadi taruhannya. Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tentang negeri Syam / Palestina akan menjadi bumi ribath sampai akhir zaman.

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang memusuhi mereka maupun tidak mau mendukung mereka sama sekali tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” Malik bin Yakhamir menyahut: Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa mereka berada di Syam.” Mu’awiyah berkata, “Lihatlah, ini Malik menyebutkan bahwa ia telah mendengar Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa kelompok tersebut berada di Syam.” [ HR. Bukhari: Kitabul Manaqib no. 3369 dan Muslim: dalam Kitabul Imarah no. 3548].

Penderitaan muslim Gaza berlangsung di depan mata, tanpa ada yang mampu menolong.  Apalagi para penguasa muslim sudah terbelenggu ikatan nasionalisme dan perjanjian rahasia dengan penjajah dan pendukungnya. 

Apakah mereka telah lupa dengan firman Allah SWT terhadap pemimpin Muslim dunia: 

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَا لَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْۤا اُولٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يُهَاجِرُوْا مَا لَـكُمْ مِّنْ وَّلَايَتِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ حَتّٰى يُهَاجِرُوْا ۚ وَاِ نِ اسْتَـنْصَرُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ اِلَّا عَلٰى قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَا قٌ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Anfal 8: Ayat 72).


Harus Ada Junnah

Umat Islam tak akan pernah bisa melindungi dirinya sendiri, jika masih berada di bawah naungan pemimpin diktator Kapitalis seperti sekarang ini. Oleh karena itu harus ada pemimpin yang bisa melindungi mereka, selain adil dan bijaksana, juga siap menjadi garda terdepan melawan penjajah. Telah dijelaskan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sungguh Imam (Khalifah)  itu laksana perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasan-Nya” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Daud,  dan Ahmad).

Ketika Rasulullah SAW menjadi pemimpin kaum Muslim, di negara Islam Madinah, telah melindungi banyak setiap nyawa kaum Muslim. Sama halnya dengan Khulafaur Rasyidin dan Khalifah setelah mereka, menjadi pelindung bagi umatnya dari ancaman yang membahayakan nyawa mereka dan umat selalu merasakan hidup aman di bawah naungannya. 

Lain halnya dengan pemimpin sekarang, jangankan mengerahkan pasukan untuk berjihad. Menolong kaum muslim yang tertindas, mereka enggan untuk melangkah maju. Dengan alasan, “Itu urusan Pemerintah Negara mereka, kita tidak punya hak untuk ikut campur”. Atau sedikit celoteh dari seorang tokoh “Negara kita pun banyak masalah. Mengapa harus mengurusi Negara lain?”. Begitulah ikatan nasionalisme yang membelenggu setiap negara. Atau mereka telah lupa pada sabda Rasulullah Saw:

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dia dan jangan pula menyerahkan dia (kepada musuh)” (HR. Al-Bukhari).

Ramadhan semestinya membuat umat makin bersemangat untuk mewujudkan kemuliaan umat dan persatuan hakiki di bawah naungan Islam. Menepis semua ikatan-ikatan Ashobiyah yang menjadikan kita egois terhadap sesama saudara satu Aqidah. 

Kita pun telah berdosa karena membiarkan saudara kita teraniaya. Maka, sudahkah siap mempertanggung jawabkan perbuatan kita di hadapan Sang Maha Kuasa kelak di hari Kiamat? 

Oleh karena itu, urgent sekali dunia ini untuk dipimpin oleh pemimpin yang adil dan jujur, yang siap menerapkan aturan Islam secara kaffah, serta menghukum semua orang yang telah berbuat dzalim terhadap umat Islam, termasuk pemimpin diktator yang telah menyengsarakan seluruh manusia. Kita semua berharap bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir tanpa Khilafah. Sebab tanpa Khilafah kita hanyalah bagaikan buih dilautkan,  ada begitu banyak namun tak memiliki arti dan guna. []


Wallahu A’lam bi ash-Ashowab

Posting Komentar

0 Komentar