Ketika Cinta Berbalut Nafsu

Oleh: Suhaeni, M,Si


Bulan Februari  biasanya identik dengan cinta. Suasana serba pink. Lekat dengan bunga dan cokelat. Bahkan tidak sedikit terjerumus maksiat. Yup, karena di bulan Februari ada moment valentine days atau hari kasih sayang. Tidak sedikit remaja yang merayakannya. Bahkan difasilitasi oleh para pengusaha yang hanya berorientasi profit. Tanpa memandang apakah itu halal atau haram. 


Saya tidak akan membahas tentang apa itu V’days? Bagaimana sejarahnya? Saya yakin kalian sudah paham. Dan, hukum merayakannya pun sudah tau. Yakni satu kata 'haram'.


“Boleh kali kalo hanya buat seru-seruan aja mah.”

“Saya gak merayakan V’days kok, tapi hanya ngucapin ucapan sayang ke someone special.”


Lah, apa bedanya coba? Sering ya kita mendengar alasan-alasan seperti itu. Stop! Itu tasyabbuh, gaes! Seperti dalam hadist “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad).


Bahasan cinta biasanya menjadi topik yang hot di kalangan remaja. Masa remaja secara fitrah memang sedang masa-masanya menyukai lawan jenis. Rasa suka itu kemudian dirangsang demikian hebat oleh tontonan sinetron, film, lagu dan acara-acara lain yang dikemas apik atas nama cinta. Namun, karena cinta tersebut tidak dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan, akhirnya rasa cinta itu berbuah maksiat. Misalnya pacaran. 


Sering kita lihat langsung ataupun tidak langsung (misal, di medsos). Ada adegan ungkapan cinta dari seorang siswa kepada lawan jenisnya. Dikemas romantis, bak romeo and Juliet.  Si pria berjongkok sambil membawa setangkai bunga. Si siswinya malu-malu tapi mau. Disaksikan dan ditepukin oleh teman-teman sekelasnya. Bahkan ada yang lebih parah lagi, pelakunya itu anak SD. Naudzubillah. Ini adalah salah satu bukti keberhasilan media sekuler. Remaja dimabukkan dengan suguhan murahan. Secara tidak sadar dan perlahan, para remaja mengikuti apa yang ada dalam tontonan. 


Bukankah cinta itu harus diekspresikan? That’s right! tapi hanya untuk pasangan halal. Bukan diekspersikan dengan jalan pacaran. Pacaran kan dosa. Larangan Allah sangat keras. Janganlah kau mendekati zina. Pacaran itu pintunya zina. Bukan suatu hal yang tabu lagi. Bahkan kita sudah jengah melihat, mendengar dan menyaksikan kabar bahwa tidak sedikit remaja melakukan aborsi atas kehamilan yang tidak diinginkannya. Ini tidak lain adalah korban pergaulan bebas. Mereka melakukannya atas nama cinta. Padahal, ini nafsu semata. Naudzubillah!


/Awas Jebakan Setan!/


Jebakan-jebakan setan ada ketika jawan jenis yang bukan mahrom saling berkomunikasi yang kebablasan. Awalnya sih, bercanda. Tapi lambat laun jadi akrab dan intim. Ngakunya adik-kakak (ketemu gede). Waspadalah! Itu jebakan setan. Berhati-hatilah ketika berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Jika memang harus berinteraksi, maka seperlunya saja sesuai dengan kebutuhan. Gak usah berlebihan apalagi lebay. 


Bagi para aktivis dakwah pun harus tetap berhati-hati terhadap jeratan setan. Jangan  saling memberikan peluang dengan alasan dakwah. Sebab berkomunikasi secara intens bisa saja tidak pacaran tapi aktivitasnya tetap maksiat. Gak usah deh saling bangunin qiyamul lail atau mengingatkan untuk sahur antar lawan jenis. Ini modus, gaes! Kamu sebagai akhwat harus tegas. Apalagi sudah ngaji. 


/Cinta itu Fitrah/


Allah menganugerahkan rasa cinta kepada setiap manusia. Salah satunya adalah rasa cinta atau kagum terhadap lawan jenis. Allah menganugerahkan fitrah ini sepaket dengan aturan main dalam penyalurannya. Bukan bebas tanpa batas. Pun tidak diekspresikan di jalan yang salah. Rasa cinta terhadap lawan jenis hanya bisa diekspresikan lewat jalan halal, yakni  pernikahan. 


Jadi, ketika seorang laki-laki mengekpresikan rasa cintanya dengan jalan pacaran, ini nafsu semata. karena cinta yang fitrah tidak akan membiarkan pelakunya bergelimang dosa.


Ibnu Abbas berkata bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan masuk surga kecuali ia bersabar dan bersikap iffah karena Allah dan menyimpan cintanya karena Allah. Dan, ini tidak akan terjadi kecuali bila ia mampu menahan perasaannya kepada ma’syuq-nya (kepada orang yang dicintainya), mengutamakan cinta kepada Allah, takut kepada-Nya, dan rida dengan-Nya. Orang seperti ini yang paling berhak mendapat derajat yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Alquran: 

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 40-41)


So, jangan coba-coba mengekspresikan cinta pada jalan yang salah. Mengemas cinta padahal hanya nafsu belaka. Sebab cinta adalah fitrah. Jika memang cinta karena Allah, maka kita tidak akan pernah berbuat maksiat dalam mengekspresikan cinta kita kepada lawan jenis yang bukan mahrom.

Posting Komentar

0 Komentar