Jahat, Ulama Hanya Dijadikan Alat!


Oleh: Risma Aprilia




Dunia perpolitikan di Indonesia sedang disibukkan dengan ramainya kampanye yang dilakukan oleh kedua calon presiden dan wakil presiden, salah satunya dengan blusukan ke pasar-pasar, rumah-rumah warga miskin sampai ke pesantren-pesantren. Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh suara dari masyarakat.


Baru-baru ini calon presiden no urut 1 datang berkunjung ke pesantren Al-Anwar dalam acara Sarang Berdzikir Untuk Indonesia Maju, yang dipimpin oleh Maimoen Zubair, Merdeka.com (2/2).


Dalam kunjungannya yang didampingi oleh Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy alias Romi bertujuan meminta do'a dari pimpinan pondok pesantren yang akrab disebut Mbah Moen agar bisa terpilih kembali menjadi Presiden yang kedua kalinya. 


Namun dari video yang beredar luas di media sosial, Mbah Moen malah menyebut dalam do'anya calon presiden no urut 2 yang akan menjadi pemimpin. Tidak mau rugi di akhir do'a, Romi langsung meminta Mbah Moen untuk meralat do'anya.


“Ketika di rumah itu dalam bahasa Arab menyebut nama Pak Prabowo yang itu dalam bahasa Arabnya pemimpinnya Pak Prabowo begitu. Do'a selesai tiba-tiba Gus Romi ngasih tahu diulang do'anya,” ucap Miftah selaku Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi pada tim Merdeka.com (2/2).


Bisa kita lihat dengan jelas upaya-upaya demi melanggengkan kekuasaan, bahkan suara ulama dijadikan alat legitimasi menjelang pemilu, di mana ulama begitu banyak pengikutnya. Itulah kesempatan besar untuk meraih suara sebanyak-banyaknya, karena beranggapan suara ulama pasti akan diikuti oleh jamaahnya, sehingga ulamanya terlebih dahulu yang mereka dekati untuk diambil perhatiannya. Sangat disayangkan di sistem demokrasi ini ulama hanya dikunjungi saat ada maunya saja.


Padahal ulama itu merupakan pewaris para Nabi, mereka harus benar-benar dihormati, dihargai bukan hanya dimanfaatkan atau dibutuhkan saat menjelang pemilu saja. Sama halnya dengan rakyat miskin, tempat kumuh yang dikunjungi dan diperhatikan saat masa-masa kampanye berlangsung, setelah masa kampanye berakhir dan terpilih, ulama dan rakyat miskin terlupakan. Mereka hanya dijadikan objek untuk melancarkan tujuannya memperoleh kekuasaan.


Berbeda halnya dalam sistem pemerintahan Islam, peran ulama benar-benar dijadikan sebagai pihak yang terdepan dalam melakukan muhasabah kepada penguasa. Dalam hal perbaikan-perbaikan suatu negara seorang penguasa sangat mempercayai ulama untuk dimintai solusi dan pendapat yang sesuai dengan Islam guna memecahkan semua problematika yang dialami negara. Karena ulama mengetahui semua hal tentang Islam apalagi yang berkaitan dengan hukum-hukum syara.


Dalam ruang lingkup yang lebih spesifik para ulama adalah penerus tugas Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam yaitu sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira bagi seluruh umat manusia. Setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam wafat, maka tidak ada lagi rasul dan nabi. Karena Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam adalah nabi dan rasul terakhir. 


Oleh sebab itu saatnya kita kembali pada sistem mulia yang datang dari Allah. Sebab Hanya dalam Islam, para pewaris nabi ini mendapat penghargaan yang tepat dan kedudukan yang tinggi. Wallahu 'alam. 



*Aktivis Sahabat Hijrah Muslimah dari Majalengka



Posting Komentar

0 Komentar